Rabu, 02 Oktober 2013


MERAWAT TELUR DAN LARVA

PENDAHULUAN


            Sejak diperkenalkan teknologi budidaya ikan laut melalui model keramba jaring apung (KJA) yang di Indonesia mulai dikenal sekitar tahun 1978 maka usaha budidaya terus meningkat dari waktu ke waktu.  Hal ini dibarengi dengan permintaan pasar komoditas tersebut untuk ekspor maupun lokal.  Beberapa jenis ikan laut yang ekonomis dan merupakan komoditas  budidaya umumnya ada tiga golongan yaitu kerapu, kakap, dan beronang.  Namun, sayangnya pemasokan benih ikan budidaya siap tebar masih mengandalkan dari usaha penangkapan di alam.  Dengan demikian, ada kemungkinan akan terjadi eksploitasi penangkapan ikan di alam secara berlebihan.  Hal ini tentu saja akan merusak keseimbangan ekosistem di masa mendatang.
            Sementara itu, usaha pemasokan benih dari usaha panti benih (hatchery) ikan laut baik skala lengkap (HSL) maupun skala rumah tangga (HSRT) belum mampu memenuhi permintaan.  Tentu saja, ini merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan secara ekonomis dimana permintaan masih lebih besar dibandingkan penawaran.  Dan pada prinsipnya teknologi pembenihan ikan laut sama meskipun jenis ikannya berbeda.  Indonesia merupakan daerah tropika dengan tipe habitat yang beragam mempunyai sumber daya induk ikan komersial yang potensial untuk dibenihkan.  Ada beberapa jenis ikan laut budidaya yang mempunyai prospek secara ekonomis untuk usaha pembenihan diantaranya kerapu, kakap dan beronang.
            Diharapkan setelah mempelajari materi “Merawat Telur dan Larva” siswa memiliki gambaran tentang teknologi pembenihan secara utuh dan dapat diketahui baik melalui praktek sekolah maupun praktek di DU/DI.














Kompetensi Dasar 1 = Menetaskan Telur

LOKASI PEMBENIHAN

            Untuk membangun suatu unit usaha pembenihan ikan laut ada beberapa criteria dan persyaratan yang harus diperhatikan, salah satunya adalah persyaratan lokasi.  Panti Benih atau Balai Benih (hatchery) yang mengkhususkan pada usaha pembenihan ikan – ikan laut, seperti kerapu, kakap, dan beronang, baik hatchery skala lengkap maupun hatchery skala rumah tangga atau dikenal dengan sebutan back-yard hatchery, tidak boleh dibangun di sembarangan tempat.  Penentuan lokasi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam membangun suatu unit pembenihan.  Dengan pemilihan lokasi yang tepat, keberhasilan suatu unit usaha pembenihan ikan laut dapat terjamin.
            Penentuan lokasi untuk membangun unit pembenihan ikan laut harus memperhatikan beberapa persyaratan, antara lain persyaratan teknis dan social ekonomis.
A.  Aspek Teknis
            Dari segi teknis, pemilihan dan penentuan lokasi untuk membangun suatu unit usaha pembenihan ikan laut, perlu diperhatikan factor – factor berikut :
1.  Dekat pantai
            Karena yang akan dibenihkan adalah ikan laut, maka sebagian besar aktivitas utama  dalam pembenihan selalu terkait dan berhubungan dengan laut, seperti pengambilan air, penangkapan induk, pemeliharaan induk, pemeliharaan benih, dan kultur pakan alami.  Dengan demikian, lokasi yang dipilih untuk membangun suatu unit usaha pembenihan ikan laut harus dekat pantai.  Ini bertujuan untuk memudahkan didalam pengambilan air laut, pengadaan induk, pemeliharaan induk dan benih serta kultur pakan alami.
2.  Curah hujan
            Dalam penentuan lokasi pembangunan hatchery, harus juga diperhitungkan curah hujan.  Curah hujan yang tinggi (frekuensi di atas 100 hari/tahun) kurang baik dipilih untuk membangun hatchery.  Kenapa?!!!  Karena hujan yang terus menerus akan berdampak kurang baik bagi beberapa parameter kualitas air, terutama salinitas dan suhu.  Selain itu, akan menghambat kegiatan kultur pakan alami dalam skala besar yang biasa dilakukan di luar ruangan dengan memanfaatkan sinar matahari.
            Akan lebih sulit lagi jika system bangunan suatu unit usaha pembenihan (hatchery) menggunakan out door system dimana semua alat, bak pemeliharaan dan operasional berada di alam terbuka.  Untuk itu, agar hujan tidak masuk ke dalam bak pemeliharaan maka ditutup dengan terpal plastic.  Namun kekurangannya, jika bak ditutup terlalu lama, sirkulasi udaranya tidak lancer dan suhu air medianya cenderung meningkat terus.  Oleh karena itu, daerah yang cocok untuk lokasi hatchery adalah yang frekuensi hujannya dibawah 100 hari/tahun.
3.  Angin, Gelombang dan Arus
            Faktor angin juga merupakan hal yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi pembenihan.  Pada daerah yang kecepatan anginnya tinggi, suhu air akan cenderung rendah dan cepat kotor akibat kotoran yang dibawa angin.  Dengan demikian memilih daerah yang terlindung dari angin kencang merupakan langkah yang tepat.
            Bila pemeliharaan induk dan benih dilakukan di KJA di laut maka factor gelombang perlu diperhatikan.  Badai dan gelombang besar mudah merusak konstruksi KJA dan memperpendek umur penggunaannya.  Gelombang yang terus menerus menyebabkan ikan stress dan selera makannya menurun.  Oleh karena itu, lokasi sebaiknya dipilih di perairan yang terlindungi dari badai dan gelombang.  Lokasi dengan pulau – pulau kecil biasanya dipilih sebagai pelindung dari ancaman gelombang.  Tinggi gelombang yang ideal untuk penempatan KJA maksimum 0,5 meter. 
            Sedangkan arus air sangat membantu pertukaran air dalam keramba, membersihkan timbunan sisa – sisa metabolism ikan dan membawa oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan ikan.  Namun, harus dicegah arus yang terlalu berlebihan karena disamping merusak posisi KJA, juga menyebabkan ikan menjadi stress, energy banyak terbuang dan selera makan berkurang.  Kecepatan arus yang ideal sekitar 0,2 – 0,5 meter / detik.
4.  Topografi
            Topografi erat kaitannya dengan bentuk permukaan tanah.  Faktor ini penting, terutama terkait dengan pembangunan gedung dan pembuatan tambak untuk pemeliharaan calon induk dan benih.  Oleh karena itu, data topografi yang terperinci dari calon lokasi sangat penting untuk dimiliki.  Lahan untuk pembangunan suatu unit suaha pembenihan sebaiknya datar, sehingga tidak menyulitkan pengambilan air laut.
            Sedangkan untuk pembangunan tambak, topografi dibutuhkan untuk mengatur tata letak tambak, disesuaikan dengan letak lokasi.  Topografi tanah juga bermanfaat untuk memperkirakan volume tanah yang harus digali atau volume yang perlu ditimbun.  Selain itu dengan mempelajari topografi tanah, kedalaman tanah dan saluran dapat ditentukan secara lebih tepat sehingga energy pasang surut air laut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
            Peta topografi dapat diperoleh di Depart. Pekerjaan Umum, namun umumnya pada peta yang tersedia, contour interval-nya  terlalu besar sehingga kurang dapat memberikan data rinci bagi keperluan perencanaan tambak.  Oleh karena itu, peta topografi harus diusahakan sendiri melalui survey topografi, dan dibuat dalam skala yang lebih kecil, disesuaikan dengan kebutuhan dan lahan yang ada.
5.  Kesuburan Tanah
            Bila suatu unit usaha pembenihan melakukan pemeliharaan calon induk dan benih di tambak, maka unit usaha pembenihan tersebut harus memiliki tambak yang tidak jauh dari gedung pembenihan.  Untuk membangun tambak, maka factor kesuburan tanah juga perlu diperhatikan. 
            Kesuburan tanah dapat diukur dari beberapa factor diantaranya adalah tekstur.  Tanah yang baik bagi pembuatan tambak adalah tanah yang bertekstur liat dan berlumpur/berdebu.  Tanah yang bertekstur demikian memiliki sifat sangat keras dan akan mengalami retak – retak bila dikeringkan.  Sementara, dalam keadaan basah, partikel tanah tersebut mempunyai kemampuan yang baik dalam menahan air.  Tanah liat dan berlumpur juga baik bagi pembuatan pematang dan sangat subur.
            Selain tekstur, pH (keasaman) tanah juga merupakan salah satu indicator kesuburan tanah.  pH tanah yang baik bagi lahan tambak berkisar antara 7,0 – 8,5.  Tanah juga harus mengandung unsur hara yang cukup yang diperlukan dalam penumbuhan plankton.
6.  Sumber Air
            Pada unit usaha pembenihan ikan laut tentu saja menggunakan air laut sebagai media atau sumber airnya, demikian juga sebaliknya untuk pembenihan ikan tawar.  Air laut dipakai untuk pemeliharaan calon induk, pematangan gonad, pemeliharaan larva benih, pemijahan dan kultur makanan alami.  Untuk mengambil air laut dapat dilakukan dengan cara dipompa langsung dari laut atau sumur di sekitar pantai.  Namun beberapa kegiatan, seperti pemeliharaan calon induk, pemataangan induk dan pemeliharaan benih dapat langsung di laut dengan menggunakan KJA.
            Karena sumber air dari suatu unit usaha pembenihan kerapu berasal dari laut, maka selain lokasi yang dipilih harus disekitar pantai, juga air laut disekitarnya harus memenuhi syarat untuk digunakan, seperti bersih, tidak tercemar dan beberapa indicator kimianya.  Selain air laut, suatu unit usaha pembenihan juga membutuhkan air tawar.  Air tawar digunakan untuk menurunkan salinitas air laut yang terlalu tinggi, mencuci / sanitasi peralatan dan kebutuhan konsumsi karyawan.  Air tawar dapat diperoleh dengan cara membuat sumur di sekitar lokasi atau dengan cara lain.
7.  Kualitas Air
            Dalam kegiatan pembenihan, baik skala besar maupun skala rumah tangga, factor air harus dalam kondisi optimum secara kuantitas maupun kualitas.  Upaya memenuhi kuantitas dan kualitas air untuk pembenihan dimaksudkasn untuk memproduksi benih yang bermutu, cukup, dan continue.
            Ada beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air, baik air di dalam bak, tambak, maupun di laut, yaitu sebagai berikut :
a)    Oksigen
Oksigen dapat diartikan sebagai zat masam.  Oksigen sangat vital bagi kehidupan semua makhluk hidup, dimana tanpa oksigen semua yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya maut.  Demikian juga organisme perairan dimana ikan membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan sebaliknya.  Oleh karena itu, ketersediaan oksigen  bagi ikan menentukan lingkaran aktivitas ikan, konversi pakan, demikian juga laju pertumbuhan bergantung pada oksigen, dengan ketentuan factor kondisi lainnya adalah optimum.  Untuk pertumbuhan dan reproduksi, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 3 ppm sedangkan kandungan optimum adalah antara 5 – 6 ppm.
b)    Karbondioksida
Karbondioksida bersifat sebaliknya dari oksigen.  Karbondioksida jauh lebih mudah larut dalam air dibandingkan dengan oksigen sehingga sering “mengusir” dan menempati tempat oksigen dalam air.  Kenaikan karbondioksida dalam air akan menghalangi proses difusi oksigen sehingga mengurangi konsumsi oksigen dan sebagai kompensasinya ikan akan aktif sekali bernafas, yang dapat dilihat dari gerakan air di sekitar insang.   Keaktifan bernafas ini memerlukan kalori dan mengurangi kesempatan untuk makan bagi ikan (nafsu makan ikan menurun bahkan hilang), di samping selera makan sudah jauh berkurang.  Kadar karbondioksida sebesar 5 ppm di dalam air masih dapat ditoleransi oleh ikan asalkan kadar oksigennya cukup tinggi. asalkan kadar oksigennya cukup tinggi.  Akan tetapi kadar karbondioksida 50 – 100 ppm dapat mematikan ikan dalam waktu lama, sedangkan kadar karbondioksida 100 – 200 ppm bersifat akut.
c)  Derajat Keasaman (pH) air
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik.  Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang.  Supaya usaha budidaya dapat berhasil baik maka pH air harus berkisar antara 6,5 – 9,0 dan pertumbuhan optimal ikan akan terjadi pada pH 7 – 8.
d)  Amonia
Amonia (NH3) dalam air berasal dari perombakan bahan – bahan organic dan pengeluaran hasil metabolisme ikan melalui ginjal dan jaringan insang.  Disamping itu, ammonia dalam perairan juga dapat terbentuk sebagai hasil proses dekomposisi protein yang berasal dari sisa pakan atau plankton yang mati.
Secara biologis, di alam dapat terjadi perombakan ammonia menjadi nitrat (NO3), suatu bentuk yang tidak berbahaya, dalam proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri nitrifikasi terutama Nitrosomans dan Nitrobacter.  Selain itu, perombakan juga membutuhkan jumlah oksigen yang cukup dalam air.  Perombakan yang tidak sempurna dapat mengakibatkan akumulasi ion nitrit (NO2) yang bersifat racun.
Perairan yang baik untuk budidaya ikan adalah yang mengandung ammonia kurang dari 0,1 ppm.  Ikan mulai terganggu pertumbuhannya pada perairan yang kandungan amonianya mencapai 1,20 ppm, sedangkan konsentrasi ammonia di atas 2 ppm dapat membunuh sebagian besar jenis ikan.  Dalam perairan yang belum tercemar ternyata kandungan amonianya masih jauh dibawah 0,02 ppm, dan konsentrasi ini dianggap aman bagi ikan ikan budidaya.
e)  Suhu
Suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan ikan.  Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu.  Suhu juga dapat menekan kehidupan ikan bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastic).  Sifat ikan yang poikiloterm (suhu tubuh ikan dipengaruhi oleh suhu air disekitarnya) mengakibatkan rendahnya tingkat metabolisme setelah air mengalami penurunan suhu.
Distribusi suhu secara vertical perlu diketahui karena akan mempengaruhi distribusi mineral dalam air karena kemungkinan terjadi pembalikan lapisan air.  Suhu air akan mempengaruhi juga kekentalan (viskositas) air.  Perubahan suhu yang drastic dapat mematikan ikan karena terjadi perubahan daya angkut darah.  Daya angkut darah akan lebih rendah pada suhu tinggi.  Suhu juga mempengaruhi seleras makan.  Ikan lebih lahap makan pada pagi dan sore hari sewaktu suhu air berkisar antara 27 – 28 oC.
Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan adalah antara 27 – 32 oC.  Jika suhu rendah akan mengakibatkan ikan kehilangan nafsu makan sehingga pertumbuhannya terhambat sebaliknya jika suhu terlalu tinggi ikan akan stress bahkan mati kekurangan oksigen.  Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat membahayakan ikan, karena beberapa pathogen berkembang biak pada kondisi tersebut.
f)   Hidrogen Sulfida
Hidrogen sulfide atau asam belerang (H­2S) merupakan gas beracun yang dapat larut dalam air.  Akumulasinya di dalam perairan biasanya ditandai dengan endapan lumpur hitam berbau khas seperti telur busuk.  Sumber utamanya adalah hasil dekomposisi sisa – sisa plankton, kotoran ikan dan bahan organic lainnya.   Daya racun H­2S tergantung pada suhu, pH dan oksigen terlarut.  Konsentrasi H­2S yang aman bagi ikan adalah kurang dari 0,1 ppm.  Meningkatnya H­2S di dalam wadah pemeliharaan, terutama tambak dapat dikurangi dengan pembungan sisa kotoran secara rutin, pengeringan tambak yang cukup, pengapuran tanah dan padat penebaran sesuai dengan daya dukung lahan.
g)  Salinitas
Di perairan samudra, salinitas biasanya berkisar antara 34 ppt – 35 ppt.  Di perairan pantai karena terjadi pengenceran aliran sungai, salinitas biasanya turun, sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat tinggi biasanya salinitas meningkat tinggi.  Air payau adalah istilah umum yang digunakan untuk memberi nama air berdasarkan salinitas misalnya : air tawar 0 – 0,5 ppt; air payau 0.5 ppt – 17 ppt dan air laut di atas 17 ppt.
h) Pencemaran
Air laut / payau yang digunakan untuk mengisi tambak harus bebas dari bahan pencemaran.  Bahan pencemaran dapat berasal dari limbah rumah tangga, seperti detergen, limbah pertanian seperti pestisida, atau pun limbah pabrik seperti buangan sisa – sisa logam.
Beberapa logam berat yang perlu diperhatikan, karena bila kandungannya di dalam air melewati ambang batas keamanan yang ditetapkan, maka sangat membahayakan konsumen (manusia), antara lain Cadmium < 0.02 ppm;
Plumbum < 0.02 ppm; Cuprum < 0.01 ppm.  Sedangkan beberapa unsur kimia antara lain : Sianida < 0.01 ppm; Aldrin < 0.01 ppm; DDT < 0.02 ppm dan Dieldrin < 0.05 ppm.
B.  Aspek Sosial Ekonomis
            Selain aspek teknis, aspek sosial ekonomi juga menjadi salah satu aspek penting, karena salah satu syarat kelayakan lokasi harus memenuhi aspek ini.  Beberapa factor yang dapat dijadikan parameter untuk mengukur kelayakan lokasi untuk membangun suatu unit usaha pembenihan, yaitu
a.    Tidak sulit memasarkan hasil produksi jika dilihat dari dukungan sarana dan prasarana transportasi.
b.    Tersedia sumber energy listrik yang cukup.
c.    Tersedia tenaga kerja yang cukup, terutama untuk usaha skala besar, baik tenaga kerja biasa atau pun tenaga kerja ahli.
d.    Tersedia sarana dan prasarana transportasi secara memadai.
e.    Tersedia alat dan bahan di sekitar lokasi atau untuk pengadaannya tidak mengalami hambatan.
f.     Mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun pihak – pihak lain yang terkait.
g.    Lokasi yang dipilih  peruntukannya  jelas, sehingga tidak berbenturan dengan kepentingan instansi atau lembaga lain dikemudian hari.

Proses Penetasan Telur

            Ada dua  cara untuk memperoleh induk yang siap dipijahkan.  Pertama melalui usaha pembesaran dari kecil dengan metode pembesaran di KJA dan tambak, dan kedua melalui penangkapan calon induk di alam yang kemudian ditampung di tempat penampungan.  Cara yang kedua merupakan cara yang lebih singkat.  Induk yang digunakan biasanya berasal dari alam.  Hal ini disebabkan induk yang diproduksi melalui usaha pembesaran membutuhkan waktu yang cukup lama (lebih dari 1 tahun).  Induk yang digunakan harus sehat, tidak cacat fisik, gerakannya lincah dan telah mencapai ukuran dewasa.
            Setelah induk siap pijah, maka dilakukan proses pemijahan.  Ada beberapa teknik pemijahan yang telah banyak dan sudah umum dipraktekkan.  Metode tersebut diantaranya adalah pemijahan secara alami (untuk mempercepat pemijahan biasa dilakukan manipulasi lingkungan), pemijahan dengan rangsangan hormone, dan pemijahan dengan metode pemijatan / pengurutan (stripping).
            Pada proses pemijahan, pelepasan telur oleh induk betina umumnya berlangsung pada malam hari dan diikuti oleh pemijahan spermatozoa oleh induk jantan.  Setelah induk ikan melakukan pemijahan maka sel telur dan sel sperma akan bertemu dan mengalami proses pembuahan (fertilisasi) yang akan membentuk zygot.  Pembuahan pada ikan umumnya terjadi di luar tubuh.  Artinya setelah telur dilepaskan oleh induk betina, induk jantan mengeluarkan spermatozoa.  Jika telur hasil pemijahan tidak mengalami penggabungan dengan spermatozoa, maka telur ikan akan mati.  Telur ikan yang mati mudah diketahui karena kecerahannya hilang, warnanya pucat, atau putih keruh.
            Pembuahan telur ikan didukung adanya substansi yang disebut fertilizing yang merangsang spermatozoa untuk mengejar telur yang dkeluarkan oleh ikan betina.  Fertilizin sendiri dikeluarkan oleh telur pada saat terakhir ketika telur dilepas dan siap untuk dibuahi.  Pembuahan telur dapat terjadi jika spermatozoa memasuki telur lewat mikropile.  Satu spermatozoa cukup untuk membuahi satu telur ikan dan pembuahan itu sendiri terjadi dengan masuknya kepala spermatozoa ke dalam sel telur dan ekor spermatozoa tertinggal di luar.  Ketika spermatozoa masuk ke dalam sel telur, sitoplasma dan khorion meregang dan dengan semacam sumbat segera menutup mikropile untuk menghalangi masuknya spermatozoa yang lain.  Jika sel telur yang sudah bergabung dengan spermatozoa, inti spermatozoa mulai membesar dan kromosomnya mengalami perubahan, sehingga memungkinkan untuk berhimpun dengan kromosom dari sel telur sebagai fase awal pembelahan. 


Perkembangan Embrio
            Perkembangan embrio dimula dari pembelahan zygote (cleavage), stadia morula (morulasi), stadia blastula (blastulasi), stadia gastrula (gastrulasi), dan stadia organogenesis.
a.    Stadia Cleavage
Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit unit yang lebih kecil yang disebut blastomer.  Stadium cleavage merupakan rangkaian mitosis yang berlangsung berturut turut segera setelah terjadi pembuahan yang menghasilkan morula dan blastomer.
b.    Stadia Morula
Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama akan tetapi ukurannya lebih kecil.  Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil yang membentuk dua lapisan sel.  Pada saat ini ukuran sel mulai beragam.  Sel membelah secdara melintang dan mulai membentuk formasi lapisan kedua secara samar pada kutup anima.  Stadia morula berakhir apabila pembelahan sel sudah menghasilkan blastomer.  Blastomer kemudian memadat menjadi blastodisk kecil membentuk dua lapis sel.  Pada akhir pembelahan akan dihasilkan dua kelompok sel.  Pertama kelompok sel sel utama (blastoderm), yang meliputi sel sel formatik atau gumpalan sel sel dalam (inner mass cells), fungsinya membentuk tubuhy embrio.  Kedua adalah kelompok sel sel pelengkap, yang meliputi trophoblast, periblast, dan auxiliary cells.  Fungsinya melindungi dan menghubungi antara embrio dengan induk atau lingkungan luar.  Kelompok sel sel yang terdiri dari jaringan embrio (blastodic) dan jaringan periblas, pada ikan, reptildan burung disebut cakram kecambah (germinal disc).
c.    Stadia Blastula
Blastulasi adalah proses yan menghasilkan blastulasi yaitu campuran sel sel blastoderm yangmembentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoels.  Pada akhri blastulasi, sel sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal, mesodermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ organ.  Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel sel datar membentuk blastocoels dan blastodisk berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur.  Pada blastula sudah terdapat daerah yang berdiferensiasi membentuk organ organ tertentu seperti sel saluran pencernaan, notochorda, syaraf, epiderm, ectoderm, mesoderm, dan endoderm.
d.    Stadia Gastrula
Gastrula adalah proses perkembangan embrio,dimana sel bakal organ yang telah terbentuk pada stadia blastula mengalami perkembangan lebih lanjut.  Proses perkembangan sel bakasl organ ada dua, yaitu epiboli dan emboli.  Epiboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah depan, belakang, dan ke samping dan sumbu embrio dan akan membentuk epidermal, sedangkan emboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah dalam terutama di ujung sumbu ebrio.  Stadia gastrula ini merupakan proses pembentukan ketiga daun kecambah yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm. Pada proses gastrula ini terjadi perpindahan ectoderm, mesoderm, endoderm, dan notochord menuju tempat yang definitive.  Pada periode ini erat hubungannya dengan proses pembentukan susunan syaraf.  Gastrulasi berakhir pada saat kuning telur telah tertutupi oleh lapisan sel.  Beberapa jaringan mesoderm yang beradas di sepanjang kedua sisi otochord disusun menjadi segmen segmen yang disebut somit yatu ruas yang terdapat padas embrio.
e.    Stadia Organogenesis
Organogenesis merupakan stadia terakhir dari proses perkembangan embrio.  Stadia ini merupakan proses pembentukan organ organ tubuh makhluk hidup yang sedang berkembang.  Dalam proses organogenesis terbentuk berturut turut bakal organ yaitu syaraf, notochorda, mata, somit, rongga kuffer, kantong alfaktori, rongga ginjal, usus, tulang subnotochord, linea lateralis, jantung, aorta, insang, infundibullum, dan lipatan lipatan sirip.  Sistem organ organ tubuh berasal dari tiga buah daun kecambah, yaitu ekdermal, endodermal, dan mesodermal.  Pada ektodermal akan membentuk organ – organ susunan (system) saraf dan epidermis kulit.  Endodermal akan membentuk saluran pencernaan beserta kelenjar kelenjar pencernaan dan alat pernafasan, dan mesodermal akan membentuk rangka, otot, alat alat peredaran darah, alat ekskresi, alat alat reproduksi, dan korium (chorium) kulit.  Jika proses organogenesis ini telah sempurna maka akan dilanjutkan dengan proses penetasan telur.
Proses Penetasan Telur
            Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan (tempat luas), hal ini penting dalam perubahan perubahan morfologi hewan. Penetasan merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya.  Penetasan terjadi karena :
1.    Kerja mekanik
Oleh karena embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang dalam cangkangnya atau karena embrio telah lebih panjang dari lingungan dalam cangkangnya.  Dengan pergerakan pergerakan tersebut bagian telur lembek dan tipis akan pecah sehingga embrio akan kelur dari cangkangnya.
2.    Kerja enzimatik
Enzim dan zat kimia lainnya yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal di daerah pharink embrio. Enzim ini disebut chorionase yang kerjanya bersifat mereduksi chorion yang terdiri dari pseudokeratine menjadi lembek.  Sehingga pada bagian cangkang yang tipis dan terkena chorionase akan pecah dan ekor embrio keluar dari cangkang kemudian diikuti tubuh dan kepalanya.
Semakin aktif embrio bergerak akan semakin cepat penetasan terjadi.  Aktivitas embrio dan pembentukan chorionase dipengaruhi oleh factor dalam dan luar.  Faktor dalam antara lain hormone dan volume kuning telur.Hormon tersebut adalah hormone yang dihasilkan kelenjar hipofisa dan tyroid sebagai sebagai hormone metamorfosa, sedang volume kuning telur berhubungan dengan energy perkembangan embrio.  Sedangkan factor luar yang berpengaruh adalah suhu, oksigen, pH, salinitas, dan intensitas cahaya.  Penetasan telur terjadi bila embrio telah menjadi lebih panjang dari pada lingkaran kuning dan telah terbentuk sirip ekor.  Penetasan terjadi dengan cara pelunakan chorion oleh suatu enzim atau substansi kimia lainnya hasil sekresi kelenjar ekstoderm.  Selain itu penetasan juga disebabkan oleh gerakan gerakan larva akibat peningkatan suhu, intensitas cahaya, dan pengurangan tekanan oksigen.
Prinsip penetasan telur ikan yaitu mengumpulkan telur telur kemudian memindahkannya ke dalam bak bak penetasan dan pemeliharaan.  Agar dapat menghasilkan larva yang berkualitas tinggi, maka proses inkubasi telur harus dilakukan dengan hati hati.  Inkubasi telur ini bertujuan untuk membuat kondisi sedemikian rupa agar perkembangan embrio berlangsung dengan baik, dan akhirnya dapat diperoleh larva yang berkualitas.  Telur telur dari hasil pemijahan alami, rangsangan hormone atau pemijatan/pengurutan ditampung di dalam kantong jaring yang halus.  Kantong jaring tersebut dapat dibuat dari kain yang halus atau plankton net dengan diameter mata jaring (mesh size) kurang dari diameter telur.  Kantong jaring tersebut dimasukkan ke dalam bak bak  bulat berkapasitas 0,5 m3 – 1 m3 air laut filter (air laut bersih).  Sebelum bak digunakan, sebaiknya disanitasi dengan larutan Chlorida 400 ppm selama 24 jam.  Selanjutnya, bak penetasan dibilas dengan air tawar sampai bersih.  Jika sudah dianggap cukup bersih, bak penetasan baru diisi air laut.  Air laut yang digunakan selalu mengalir pada tingkat 10 liter/menit sehingga terus terjadi pergantian air.  Aerasi yang tidak terlalu kuat juga diberikan agar telur telur dapat menyebar merata.  Suhu air bak yang sesuai bagi penetasan telur berkisar antara 27 – 29o C dan salinitas antara 30 – 32 ppt, padat penebaran telur 40 – 60 butir per liter untuk kerapu sedangkan untuk bandeng 20 – 40 butir per liter.  Biasanya, di tempat ini telur akan menetas dalam waktu 16 – 25 jam setelah terjadi pembuahan (fertilisasi), dengan tingkat penetasan mencapai 60 – 70 %.  Larva yang baru menetas berukuran 1,34 – 1,79 mm, tergantung dari jenis ikannya.  Pada table berikut dapat dilihat perbandingan ukuran telur pada jenis kerapu yang berbeda.



Tabel.   Diameter telur, diameter butiran minyak, masa inkubasi dan panjang larva yang baru menetas pada beberapa kerapu.

Jenis Kerapu
Diameter telur (mm)
Diameter butiran minyak pada telur (mm)
Masa Inkubasi (jam)
Panjang larva yang baru menetas (mm)
Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
0.80 – 0.90
0.10
14 – 18
1.34
Kerapu lumpur (Epinephelus suillus)
0.90
-
16 – 25
1.5 – 1.9
Kerapu sunu (Plectropumus maculates)
0.80
0.18
16 – 18
1.59
Kerapu bebek (Cromileptes altivelis)
-
-
18 – 22
1.69 – 1.79


Standar Kompetensi 2 = Memberi Pakan Larva


            Pemberian pakan dilakukan nanti setelah larva berumur 2 hari karena pada saat baru ditetaskan biasanya disebut larva berumur 0 hari (D-0), larva membawa cadangan kuning telur (yolk sack) dan gelembung minyak (oil globule), dan itu akan habis pada saat larva berumur 2 hari (D-2).  Pakan untuk larva dan benih harus tersedia dalam jumlah dan mutu gizinya bertepatan dengan saat larva dan benih membutuhkan pakan dari luar.  Pakan yang disediakan juga harus sesuai dengan ukuran mulut larva dan benih.  Berikut ini dikemukakan beberapa pakan larva dan benih diproduksi secara masal dalam wadsah terkontrol dan sudah dikenal umum.
Pakan alami meliputi Chlorella (Fitoplankton), Rotifera, Artemia, dan jenis zooplankton yang lain seperti larva tiram atau kerang kerangan yang lain dalam bentuk stadium trokopor dan berbagai jenis kopepoda alam seperti Acartia, Oithona, Pseudodiaptomus, Calanus dan lain lain sangat cocok sebagai pakan benih / larva.