Selasa, 01 Oktober 2013


MEMBUAT ANALISA USAHA BUDIDAYA IKAN

          Lembaga tata niaga adalah badan – badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dengan mana barang – barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen.  Ke dalam istilah lembaga tataniaga ini termasuk golongan produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa.
          Golongan produsen adalah mereka yang tugas utamanya menghasilkan barang – barang.  Mereka ini adalah nelayan, petani ikan, dan pengolah hasil perikanan atau pengusaha.  Disamping berproduksi, mereka seringkali aktif melaksanakan beberapa fungsi tataniaga tertentu untuk menyalurkan hasil produksinya kepada konsumen.
          Beberapa pasar hasil perikanan menurut tingkat distribusinya yaitu
1.   Pasar lokal, sering disebut pasar pengumpul lokal (local assembling market) atau pasar petani (grower market).  Pasar ini dijumpai di daerah atau disekitar daerah produksi, di luar kota besar.  Pasar lokal di daerah perikanan laut sering dan harus satu kompleks dengan tempat pendaratan ikan.
2.   Pasar sentral, sering dinamakan pasar terminal (terminal market atau primary market) merupakan pusat – pusat perdagangan.  Pasar ini menerima barang dari pasar lokal atau langsung dari nelayan dan petani ikan.  Pasar ini biasanya dijumpai di kota – kota besar atau tempat – tempat pengumpulan lainnya.
3.   Pasar ekspor – impor, disebut juga pasar pelabuhan, merupakan pasar pusat bagi barang – barang yang akan dikirim ke luar negeri atau ke pulau – pulau, dan barang – barang yang berasal dari import.  Barang yang akan dikirim ke luar negeri berasal dari pasar pusat, pasar lokal dan jarang dari produsen (nelayan, petani ikan atau petani pada umumnya).
4.   Pasar antar negara (pasar dunia, pasar internasional) ini terdapat hubungan antara penawaran dan permintaan barang tingkat dunia.
5.   Pasar eceran merupakan pusat perdagangan dimana pedagang eceran menjual barang dagangannya dalam jumlah kecil kepada konsumen akhir secara langsung.
          Merencanakan biaya produksi adalah merupakan satu tahapan pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang pengusaha baik itu usaha kecil maupun besar dalam menjalankan usahanya. Perencanaan yang komprehensip akan sangat membantu dalam memprediksi untung/rugi, serta mempermudah dalam menjalankan setiap kegiatan pengusaha dalam melaksanakan usahanya.
          Perencanaan dilakukan terhadap semua kegiatan yang akan dikerjakan, baik itu perencanaan kegiatan, perencanaan biaya, perencanaan produksi, perencanaan pemasaran dan perencanaan lainnya.  Suatu usaha akan mudah dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja usahanya apabila terdapat satu
perencanaan yang baik. Kinerja perusahaan dapat diukur secara baik dengan cara antara lain membandingkan antara perencanaan dengan hasil/prestasi kerjanya.

Pengertian biaya operasional

          Istilah biaya dapat diartikan dalam bermacam-macam pengertian tergantung pada bagaimana biaya digunakan. Namun demikian pada modul ini yang akan dibahas adalah biaya tetap dan biaya variabel untuk operasional produksi benih. Sehingga biaya operasional adalah segala keperluan biaya yang digunakan untuk melakukan suatu produksi benih yang meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap atau fixed cost (FC) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu produksi dimana biaya tersebut tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produk yang akan dihasilkan, contoh; biaya untuk membayar bunga pinjaman, penyusutan alat (depresiasi), sewa alat, gaji para manajer eksekutif, pajak kekayaan.  Sedangkan biaya variabel atau variable cost (VC) adalah besarnya biaya yang dikeluarkan berubah-ubah karena dipengaruhi oleh besar kecilnya produk yang akan dihasilkan, contoh; biaya pengadaan benih, biaya pengadaan obat, pupuk, dan tenaga kerja dan biaya lainnya yang besarnya sesuai tingkat produk yang akan dihasilkan (output).
          Biaya operasional adalah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu barang yang dalam hal ini adalah biaya operasional produksi benih. Berarti seluruh biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk benih baik biaya tetap maupun biaya tidak tetap.

Tujuan Menghitung Biaya Operasional Produksi Benih

          Tujuan menghitung biaya operasional produksi benih adalah untuk:
1.   memperoleh informasi biaya operasional produksi benih yang efisien sehingga    dapat diketahui prediksi/perkiraan untung ruginya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2.   membandingkan berbagai metode penghitungan biaya operasional yang didasarkan pada tahapan bidang garapan produksi benih. 
3.   melakukan perencanaan biaya operasional produksi yang ditentukan berdasarkan persyaratan teknis dan daya dukung perusahaan.
          Dalam usaha produksi benih perhitungan biaya operasional adalah merupakan pekerjaan perencanaan utama yang harus dilakukan sebelum produksi benih dilakukan. Sebagai dasar perhitungan dalam perhitungan biaya operasional terlebih dahulu harus diketahui tahapan produksi secara utuh, hal ini diperlukan untuk akurasi pembiayaan, sehingga tidak akan terjadi adanya tahapan yang tidak terbiayai.  Di samping itu dalam perencaan pembiayaan perlu dipertimbangkan pula persyaratan teknis dan daya dukung perusahaan dalam membuat perencanaan biaya produksi. Hal ini mengingat setiap komoditas memiliki atau mempersyaratkan teknis yang berpengaruh terhadap biaya yang harus dikeluarkan dan sejauhmana perusahaan memiliki daya dukung untuk memenuhi persyaratan teknisnya.

Perencanaan Biaya Operasional

          Perencanaan adalah suatu proses mengembangkan tujuanperusahaan dan memilih kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang untuk mencapai tujuan. Proses ini mencakup penentuan tujuan perusahaan, pengembangan kondisi lingkungan agar tujuan dapat dicapai, pemilihan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan, penentuan langkah untuk menerjemahkan rencana menjadi kegiatan yang sebenarnya, dan melakukan perencanaan kembali untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi.  Memperhatikan pengertian di atas, maka perencanaan biaya harus memperhatikan beberapa hal yang menyangkut; tujuan, tindakan untuk mencapai tujuan, rincian kegiatan yang sebenarnya, dan memperbaiki kekurangan yang terjadi.

Perencanaan Produksi

          Produksi benih adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang atau perusahaan untuk menghasilkan suatu produk berupa benih. Produk dimaksud dapat berupa benih untuk keperluan sendiri ataupun untuk keperluan komersial yaitu benih untuk dijual kembali. Namun dalam diktat ini akan dibahas produk untuk keperluan komersial.
          Langkah awal dalam pelaksanaan proses produksi adalah merencanakan produk atau komoditi apa yang akan diusahakan, misalnya : komoditi ikan mas, ikan nila, ikan hias, dan lain-lain, dengan harapan produk tersebut dapat dipasarkan, serta hasilnya memberikan keuntungan, juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Perencanaan produk ini bukan hanya merencanakan fisik produk saja, tetapi juga proses-proses yang memungkinkan produk tersebut terwujud, yakni produk yang akan di hasilkan harus yang memungkinkan disenangi dan sesuai dengan selera konsumen, contohnya untuk ikan hias koki banyak pilihan yang bisa ditawarkan, misalnya : red head, slayer, black moli, dan lain-lain, produk yang dihasilkan terdiri dari bagian yang mana, apakah berupa benih, ikan konsumsi atau yang lainnya, persyaratan produk yang akan dihasilkan harus sesuai dengan mutu produk yang dinginkan konsumen penentuan pengujian mutu yang dihasilkan, seperti : ukuran, kesehatan, dan lain-lain.




Strategi Pelaksanaan

Supaya produksi benih sesuai dengan yang diharapkan baik mutu maupun jumlahnya maka dalam pelaksananaannya akan dilakukan dengan strategi sebagai berikut:
    a.        Melakukan studi kelayakan secara cermat unuk menentukan berbagai faktor produksi seperti; tempat, jumlah/kapasitas produksi, lokasi/sasaran pasar, dan waktu produksi.
   b.        Mempelajari secara cermat sumberdaya-sumberdaya yang berpengaruh terhadap produksi benih seperti, sumberdaya manusia, pengadaan bahan, kondisi agro klimat.
    c.        Membuat perencanaan produksi
   d.        Melakukan produksi sesuai dengan rencana
    e.        Melakukan evaluasi terhadap proses produksi dan hasil

Target produksi

          Target produksi disesuaikan dengan hasil pengkajian pasar dan kemampuan perusahaan dalam memproduksi benih cabe. Misalnya target produksi yang dicanangkan adalah memenuhi kebutuhan benih cabe untuk pulau Jawa dan Sumatera, secara kasar kebutuhan benih untuk cabe adalah 1000 kg per tahun. Berarti untuk memenuhi 1000 kg ini, kontribusi yang dapat dihasilkan oleh perusahaan ini misalnya 500 kg atau 50% dari total kebutuhan. Kalau tiap kemasan 100 gram, maka produksi yang ditargetkan adalah 10.000
kemasan.

Pelaksanaan Produksi

          Sebelum tahap pelaksanaan produksi dilakukan perlu diperhatikan apakah sarana (input) produksi yaitu 5 M (man, money, machine, material, and method) sudah tersedia, karena kegiatan produksi merupakan aliran yang dimulai dari input sampai dengan proses. Secara sederhana kegiatan produksi dapat digambarkan sebagai berikut :

Masukan                                 Proses                                      Hasil
(Input)                                                                                     (Output)


Penentuan Bahan

          Setelah penentuan produk yang akan dihasilkan, langkah selanjutnya adalah penentuan atau pemilihan bahan baku yang akan digunakan, misalnya induk ikan yang harus disediakan dan jenis pakan yang akan digunakan, agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar. Dengan demikian diharapkan produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang diharapkan oleh konsumen, sehingga akhirnya dapat mendatangkan keuntungan yang berkembang dengan baik.  Beberapa persyaratan dalam memilih bahan baku seperti : ikan, induk ikan, pakan ikan dan lain-lain yaitu :
1.   Ikan yang dipilih sebaiknya ikan yang mudah dipelihara, atau bila usaha itu merupakan usaha pembenihan ikan maka sebaiknya ikan yang dipilih adalah ikan yang mudah dalam pemijahannya, serta diharapkan dalam pelaksanaannya cukup menggunakan peralatan yang tersedia, sehingga kemungkinan besar biaya produksi akan lebih ringan. 
2.   Bahan baku yang disediakan harus yang berkualitas, karena untuk memperoleh suatu hasil produksi yang baik dibutuhkan bahan baku yang baik pula, misalnya untuk memperoleh benih yang baik diperlukan induk ikan yang baik pula.
3.   Bahan baku yang disediakan hendaknya yang mudah diperoleh, artinya bila sewaktu waktu memerperlukan bahan baku tersebut secara mendadak maka dapat dengan mudah diperoleh atau tidak perlu menunggu lama, sehingga proses produksi tidak terhambat atau terganggu.
4.   Bahan baku yang tersedia hendaknya yang relatif murah, dengan demikian diharapkan usaha yang dijalankan dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar.


Penyediaan Peralatan

          Setelah proses produksi ditentukan langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memilih peralatan yang akan digunakan untuk proses produksi. Dalam pemilihan peralatan perlu dipertimbangkan faktor ekonomi dan faktor teknis dari peralatan tersebut. Pertimbangan ekonomis, yaitu pertimbangan yang berhubungan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk pengadaan, penggunaan dan perawatan tersebut. Sedangkan pertimbangan teknis, yaitu pertimbangan yang berhubungan dengan sifat teknis dari peralatan tersebut, antara lain : kapasitas peralatan, keserbagunaan peralatan, ketersediaan suku cadang, kemudahan untuk memperbaiki (konstruksi sederhana).  Berdasarkan proses produksi yang telah ditentukan, peralatan yang dipakai, dan cara kerja yang ditentukan, maka dapat ditentukan pula tata letak (lay out) peralatan.  Dalam menentukan tata letak peralatan ada 7 (tujuh) prinsip dasar yang harus diperhatikan, yaitu :
1.   prinsip integrasi, artinya tata letak yang baik harus dapat diintegrasikan dengan seluruh faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan, mesin, dan perlengkapan lainnya sehingga dapat menghasilkan kerja sama yang harmonis,
2.   prinsip memperpendek gerak,
3.   prinsip memperlancar arus pekerjaan yang dapat menjamin kelancaran arus bahan tanpa hambatan,
4.   prinsip penggunaan ruangan yang efektif dan efisien,
5.   prinsip keselamatan dan kepuasan pekerjaan,
6.   prinsip keluwesan, yaitu dapat disesuaikan dengan keadaan jika diperlukan adanya perubahanperubahan, dan
7.   prinsip proses produksi berkesinambungan dan intermitten.
          Tata letak peralatan yang baik adalah adalah bila peralatan dan tempat penyimpanan disusun urutannya sesuai dengan keterkaitannya. Tata letak yang baik adalah memungkinkannya mobilitas orang-orang yang bekerja di ruang tersebut tidak terganggu, sehingga tidak mengurangi efisiensi dan efektifitas pekerjaan.

Penentuan Kebutuhan Tenaga Kerja

          Untuk menentukan apakah kita membutuhkan tenaga kerja atau tidak, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1.   Apakah seluruh kegiatan dalam pelaksanaan usaha tersebut dapat kita lakukan sendiri
2.   Bila ”tidak” berarti kita harus merekrut tenaga kerja sesuai dengan tingkat kebutuhan
3.   Lalu apakah keuangan usaha kita mampu memberikan upah bagi tenaga kerja tersebut, ataukah kita menggunakan anggota keluarga kita sendiri. 
          Apabila kita sudah memutuskan      untuk menggunakan tenaga kerja, terlepas dari tenaga kerja tersebut merupakan tenaga kerja upahan atau keluarga (pekerja keluarga), maka pertimbangan berikut yang perlu dilakukan adalah :
1.   Jenis pekerjaan/jabatan apa yang akan mereka isi
2.   Apa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengisi pekerjaan/jabatan tersebut, dan
3.   Berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan
Agar pelaksanaan kegiatan usaha sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan serta hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dilakukan pengendalian terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan kelancaran usaha tersebut.  Pengendalian tersebut terdiri dari pengendalian bahan, pengendalian peralatan, pengendalian tenaga kerja, pengendalian biaya dan pengendalian kualitas. Selanjutnya akan diuraikan secara detail tentang setiap aspek dalam pengendalian tersebut agar kegiatan usaha budidaya ikan dapat berjalan sesuai rencana dan menguntungkan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi para pembudidaya ikan yang menggantungkan hidupnya dari uasaha budidaya ikan ini.

Pengendalian Bahan

          Pengendalian bahan yang biasa digunakan dalam proses produksi pada umumnya terdiri dari pengendalian penggunaan bahan dan pengendalian persediaan bahan.  Pengendalian semacam ini merupakan suatu pengendalian yang dilakukan agar bahan dapat digunakan secara efektif dan efisien, sehingga dapat menekan kemungkinan risiko kerugian            Bahan perlu disediakan secukupnya, dengan kata lain bila persediaan bahan yang terlalu banyak akan mengakibatkan penggunaan modal yang tidak efisien, sebaliknya bila bahan yang disediakan terlalu sedikit akan mengganggu kelangsungan kegiatan produksi, kerena bisa terjadi kehabisan persediaan bahan sebelum waktunya. Kejadian ini dapat menyebabkan peningkatan biaya produksi. Selain itu bila bahan yang diperlukan tersedia dalam jumlah yang cukup serta waktu yang tepat maka pengendaliannya akan lebih mudah, karena tidak memerlukan gudang penyimpanan yang yang besar dan waktu penyimpanan yang lama. Jadi halhal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian persediaan bahan, antara lain : jumlah, macam, syaratsyarat bahan yang diperlukan untuk proses produksi, tatalaksana penerimaan, tatalaksana penyimpanan, tatalaksana pengeluaran barang, menentukan saat yang tepat untuk melakukan pemesanan bahan, dan menentukan jumlah pesanan yang paling ekonomis.
          Untuk menentukan jumlah pesanan yang ekonomis (economic ordering quality) dapat dilakukan seperti pada contoh kasus di bawah ini.  Suatu usaha pembesaran ikan di jaring apung sebanyak 1 unit (4 kolam) memerlukan pakan untuk satu kali periode produksi sebanyak 8 ton. Bila biaya sekali pesan Rp. 5.000,- dan biaya penyimpanan Rp. 500 per kilogram, maka :

Banyak kali pesan
Jumlah yang dipesan
Rata – rata Penyimpanan
Biaya Penyimpanan
Biaya pesanan
Biaya Total
1 x
8.000
4.000
2.000.000
5.000
2.005.000
2 x
4.000
2.000
1.000.000
10.000
1.010.000
3 x
2.000
1.000
500.000
15.000
515.000
4 x
1.000
500
250.000
20.000
270.000
5 x
50
250
125.000
25.000
150.000
6 x
250
125
62.500
30.000
92.5000

Penjelasan :
Jika jumlah yang dipesan 1x untuk memenuhi kebutuhan satu kali periode pemeliharaan, maka jumlah pakan yang harus dipesan sebanyak 8.000 kg. Jadi rata-rata jumlah barang yang harus disimpan di gudang sebanyak 8.000 kg : 2 = 4.000 kg, maka :
Biaya penyimpanan 4.000 kg x Rp. 500,-   = Rp. 2.000.000,-
Biaya satu kali pesan                                  = Rp. 5.000,-
Biaya total                                                 = Rp. 2.005.000,-
Demikian pula dengan cara perhitungan untuk 2 kali pesan, 3 kali pesan, dan seterusnya.


Pengendalian Peralatan

          Pengendalian peralatan juga termasuk hal penting, karena merupakan aset yang utama dalam suatu usaha. Manfaat dari pengendalian peralatan, antara lain adalah :
·         proses produksi akan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
·         peralatan yang diperlukan sudah tersedia dalam keadaan siap pakai
·         terjaganya peralatan dalam kondisi baik,
·         berjalannya proses produksi dengan baik sehingga dengan demikian dapat terhindar dari kemungkinan risiko kerugian.

Pengendalian Tenaga Kerja

          Agar pelaksanaan proses produksi dapat berjalan sesuai dengan jadwal kegiatan yang telah ditetapkan harus disiapkan, maka perlu disiapkan pula tenaga kerja sesuai dengan yang diperlukan. Hal-hal yang perlu disiapkan berkaitan dengan tenaga kerja ini, adalah : jumlah tenaga kerja yang diperlukan, syarat-syarat ketrampilan, rencana latihan yang diperlukan, menciptakan semangat dan gairah kerja dengan jalan penentuan gaji/ upah, serta kondisi kerja yang baik dalam rangka perawatan tenaga kerja yang baik.

Pengendalian Biaya

          Kegiatan pengendalian biaya perlu dilakukan agar biaya untuk membuat barang sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.  Seandainya ada penyimpangan biaya dari yang sudah direncanakan, maka hal itu sudah harus diperhitungkan sebelumnya.  Pengendalian biaya dapat dilakukan melalui 4 (empat) langkah, yaitu :
1.   menetapkan standar untuk biaya biaya kegiatan produksi
2.   membandingkan biaya standar dengan biaya yang sesungguhnya
3.   menetapkan bagian yang bertanggung jawab untuk menangani jika terjadi penyimpangan, dan
4.   melaksanakan tindakan untuk mengurangi atau mengakhiri penyimpangan.
          Setiap tahapan produksi selalu ada biaya yang membuat biaya tersebut lebih tinggi dari yang seharusnya, penyebab tingginya biaya tersebut antara lain adalah pemakaian bahan yang berlebihan, pemakaian jam tenaga kerja yang berlebihan, dan pemakaian dana untuk investasi yang berlebihan. Pemakaian yang berlebihan tersebut dinamakan pemborosan (waste). Untuk mengatasi pemborosan tersebut dapat diatasi melalui beberapa langkah sebagai berikut :
1.   Pembelian yang baik. Pembelian bahan yang berkualitas baik dengan harga yang lebih rendah berarti menekan biaya bahan.  Harga yang murah memungkinkan pembelian bahan dalam jumlah yang banyak, sehingga dapat dihasilkan produk jadi lebih banyak pula. 
2.   Menekan pemborosan bahan.  Usahakan agar bahan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan sehingga mengurangibahan yang terbuang, misalnya cara memberi pakan ikan diusahakan jangan sampai ada pakan yang tidak termakan karena ikan sudah kenyang, tapi pakan tetap masih diberikan.
3.   Menekan hasil produksi yang tidak baik atau cacat. Dari sekian banyak produksi mungkin ada yang tidak baik atau cacat akibat kesalahan manusia, oleh karena itu hindari dengan cara menerapkan disiplin kerja yang selalu mematuhi prosedur kerja yang sesuai dengan persyaratan teknis.
4.   Menekan biaya tenaga kerja.  Menekan biaya tenaga kerja artinya menekan jam kerja yang berlebihan karena jam kerja menentukan upah yang harus dibayarkan. Jam kerja yang berlebihan bisa terjadi karena tenaga kerja tersebut kurang efisien, misalnya mobilitas pekerja terganggu akibat dari tataletak peralatan yang kurang baik.
5.   Menekan biaya sediaan. Biaya sediaan sebaiknya ditekan serendah mungkin, karena semakin besar biaya sediaan maka semakin besar kemungkinan biaya lain yang harus ditanggung oleh perusahaan, misalnya : bunga pinjaman, asuransi, sewa gudang, risiko kerusakan barang, dan opportunity cost yang sebetulnya bila di simpan di bank akan menghasilkan bunga dengan risiko minimum. Meskipun demikian bahan sediaan harus tetap ada karena untuk menjamin kontinuitas produksi.

Pengendalian Kualitas

          Pengendalian kualitas merupakan usaha memepertahankan dan memperbaiki kualitas produk.  Pengendalian kualitas bertujuan agar hasil atau produk sesuai dengan spesifikasi yang telah direncanakan (memuaskan konsumen).  Pengendalian kualitas dapat dilakukan dalam 4 (empat) langkah, yaitu :
1.   menentukan standar kualitas produk
2.   menilai kesesuaian produk dengan standar
3.   mengadakan tindakan koreksi
4.   merencanakan perbaikan secara terus menerus untuk menilai standar yang telah ditetapkan.
          Pengendalian kualitas pada dasarnya adalah suatu kegiatan terpadu antar bagian perusahaan, yaitu :
·         bagian pemasaran, mengadakan penilaian-penilaian tingkat kualitas yang dikehendaki oleh para konsumen,
·         bagian perencanaan, merencanakan model produk sesuai dengan spesifikasi yang disampaikan oleh bagian pemasaran,
·         bagian pembelian bahan, memilih bahan sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh bagian perencanaan,
·         bagian produksi, memilih peralatan yang akan digunakan dan melakukan proses produksi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
          Kegiatan Budidaya Ikan saat ini merupakan salah satu usaha yang sangat menjanjikan bagi masyarakat.  Segmen usaha budidaya ikan berdasarkan proses produksinya dibagi menjadi tiga kelompok yaitu usaha pembenihan ikan, usaha pendederan ikan dan usaha pembesaran ikan. Usaha pembenihan ikan merupakan suatu usaha perikanan yang keluarannya (output) adalah benih ikan. Usaha pembesaran ikan merupakan suatu usaha perikanan yang keluarannya (output) adalah ikan yang berukuran konsumsi. Usaha pendederan ikan merupakan suatu usaha perikanan yang keluarannya (output) adalah benih ikan tetapi ukurannya lebih besar dari output pembenihan.  Komoditas yang dipilih dalam usaha budidaya ikan sangat bergantung pada permintaan pasar, lingkungan dan aspek teknis lainnya. Berdasarkan komoditas usaha perikanan budidaya dikelompokkan
menjadi usaha budidaya ikan air tawar, usaha budidaya ikan air payau dan usaha budidaya ikan air laut.  Suatu usaha secara umum dikatakan baik apabila usaha tersebut sehat, menguntungkan, dan mampu melakukan investasi-investasi secara jangka pendek dan jangka panjang.
Dengan demikian suatu usaha harus layak ditinjau dari aspek finansial, aspek finansial ini terutama menyangkut perbandingan antara pengeluaran (biaya) dengan pendapatan (revenue earning) dari aktivitas usaha, serta waktu didapatkannya hasil (returns).  
          Biaya adalah jumlah korbanan (input) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk (output) dalam suatu kegiatan produksi.  Berdasarkan pengelompokkannya biaya terdiri dari dua bagian yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan mulai kegiatan itu berlangsung sampai kegiatan tersebut mulai
berjalan contohnya : pendirian bangunan, pembelian peralatannya, tenaga kerja yang berhubungan biaya investasi, survey. Sedangkan biaya operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama produksi itu berlangsung : misalnya : pembelian induk, tenaga kerja, biaya listrik dan air, bahan bakar, over head cost dan lain-lain (Tabel 1 dan Tabel 2).





Tabel 1.  Biaya Investasi Usaha Pembenihan Ikan Gurami (Effendi, 2002)

No
Jenis barang
Jumlah satuan
Total Biaya (Rp)
Umur ekonomis (Tahun)
Nilai sisa (Rp)
Penyusutan pertahun (Rp)
1
Bangunan
1 unit
20.000.000
10 tahun
1.500.000
1.850.000
2
Sumur
1 unit
1.000.000
10 tahun
0
100.000
3
Pompa air & pipa
1 unit
400.000
5 tahun
400.000
72.000
4
Rumah jaga
1 unit
2.500.000
10 tahun
0
250.000
5
Induk ikan
44 ekor
2.200.000
5 tahun
15.000
437.000
6
Hapa
1 unit
50.000
5 tahun
5.000
9.000
7
Telepon
1 unit
1.200.000
10 tahun
0
120.000
8
Baskom
6 buah
45.000
5 tahun
0
9.000
9
Serok
5 buah
25.000
2 tahun
0
12.500
10
Ember
2 buah
15.000
2 tahun
1.500
6.750
11
Tabung oksigen
1 unit
600.000
10 tahun
600.000
0
12
Blower
1 unit
1.500.000
10 tahun
150.000
135.000
13
Selang sipon
3 buah
7.500
2 tahun
0
3.750
14
Selang aerasi
1 meter
15.000
2 tahun
0
7.500
15
Sendok
5 buah
7.500
10 tahun
750
675
16
Akuarium
36 unit
3.600.000
10 tahun
360.000
324.000
17
Rak akuarium
3 unit
1.800.000
10 tahun
0
180.000
18
Termometer
1 buah
15.000
6 tahun
0
2.500
19
Gayung
2 buah
6.000
2 tahun
0
3.000
20
Pipa udara
10 btg
90.000
5 tahun
0
18.000
21
Saringan
2 buah
40.000
1 tahun
0
40.000

Total

35.116.000

2.672.250
3.580.675


Tabel 2. Biaya Operasional Usaha Pembenihan Ikan Gurami (Effendi, 2002)

Biaya tetap
3 bulan (Rp)
1 tahun (Rp)
Telepon
Sewa kolam
Administrasi
Listrik
Gaji Karyawan
Tunjangan
PBB
Penyusutan
Jumlah Biaya Tetap

225.000
500.000
75.000
375.000
4.800.000
1.600.000
9.000
-
7.584.000

900.000
2.000.000
300.000
1.500.000
19.200.000
1.600.000
36.000
3.580.675
29.116.675

Biaya variabel
3 bulan (Rp)
1 tahun (Rp)
Pellet
Pakan Larva
Kutu air
Cacing sutera
Pupuk kandang
Kapur
Pupuk urea
Ijuk
Obat-obatan
Oksigen
Plastik packing
Karet gelang
Jumlah biaya variabel

Total Biaya Operasional

950.400
346.500
375.000
375.000
7.500
3.750.
700
45.000
50.000
60.000
10.000
2.500
2.226.350

3.801.600
1.386.000
1.500.000
1.500.000
7.500
3.750
700
180.000
200.000
240.000
40.000
10.000
8.869.550

37.986.225


          Untuk mengetahui secara komprehensif tentang kriteria layak atau tidaknya suatu aktivitas usaha dapat digunakan lima kriteria investasi, yaitu : Payback Period, Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net BCR), dan Internal Rate of Return (IRR). Namun tiga kriteria terakhir yang umum dipakai dan dipertanggungjawabkan untuk penggunaan-penggunaan tertentu.  Sebaliknya dua kriteria pertama didasarkan atas salah pengertian tentang sifat dasar biaya sehingga tidak menyebabkan kekeliruan dalam urutan peluang investasi. Kedua kriteria ini sering tidak dianjurkan untuk dipergunakan.
          Unsur-unsur penting dalam analisis kelayakan finansial adalah harga, pajak, subsidi, dan bunga. Dalam analisis finansial, harga yang dipakai adalah harga pasar, pajak diperhitungkan sebagai biaya, subsidi dinilai mengurangi biaya (jadi merupakan benefit). Bunga dalam analisis finansial dibedakan atas bunga yang dibayarkan kepada orang-orang luar dan bunga atas modal sendiri (imputed atau paid to the entily). Bunga yang dibayarkan kepada orang-orang yang meminjamkan uangnya pada kegiatan usaha dianggap sebagai cost. Bunga atas modal sendiri tidak dianggap sebagai biaya karena bunga merupakan bagian dari finansial returns yang diterima. 
          Selain kriteria investasi yang digunakan untuk melihat kelayakan finansial suatu usaha adalah jangka waktu pengembalian modal dengan cara menghitung titik impas (Break Event Point). Perhitungan titik impas ini dilakukan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian modal usaha atau untuki mengetahui
volume produksi (nilai penjualan) minimal yang harus dicapai agar kegiatan usaha tidak mengalami kerugian atau penghasilan penjualan yang diterima dikurangi biaya yang dikeluarkan sama dengan nol. 

Net Present Value (NPV)

          NPV merupakan nilai sekarang dari suatu usaha dikurangi dengan biaya sekarang pada tahun tertentu.  Seleksi formal terhadap NPV adalah bila nilai NPV bernilai positif berarti usaha tersebut layak dan sudah melebihi Social Opportunity Cost of Capital sehingga usaha ini diprioritaskan pelaksanaannya, bila NPV bernilai 0 berarti usaha tersebut masih layak dan dapat mengembalikan persis sebesar Social Opportunity Cost of Capital, dan bila nilai NPV bernilai negatif maka sebaiknya usaha tersebut jangan diteruskan.  NPV menghitung nilai sekarang dari aliran kas yaitu merupakan selisih antara Present Value (PV) manfaat dan Present Value (PV) biaya. Jadi jika nilai NPVnya positif (lebih dari 0) artinya nilai bersih sekarang menggambarkan keuntungan dan layak diaksanakan, namun bila nilai NPVnya sama dengan 0 artinya usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi (marginal), sehingga usaha diteruskan atau tidak terserah kepada pengambil keputusan, sedangkan bila nilai NPVnya negatif
(kurang dari 0) artinya usaha tersebut merugikan sehingga lebih baik tidak dilaksanakan.  Rumus kriteria investasi ini adalah
sebagai berikut :
Dimana :
Bt =  manfaat yang diperoleh sehubungan dengan suatu usaha pada time series         (tahun, bulan, dan sebagainya) ke-t (Rp)
Ct =  Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan suatu usaha pada time series ke-t tidak dilihat apakah biaya tersebut dianggap bersifat modal (pembelian peralatan, tanah, konstruksi dan sebagainya (Rp)
I   =   Merupakan tingkat suku bunga yang relevan
T  =   Periode (1, 2, 3,……………, n)

Net Benefit Cost Ratio (NBC ratio)

          BC ratio (BCR) merupakan cara evaluasi usaha dengan membandingkan nilai sekarang seluruh hasil yang diperoleh suatu usaha dengan nilai sekarang seluruh biaya usaha. Seleksi formal BCR adalah bila BCR lebih besar dari 0 (BCR > 0) maka usaha tersebut menggambarkan keuntungan dan layak dilaksanakan, namun bila B/CCR sama dengan 0 (BCR = 0) maka usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi (marjinal) sehingga usaha tersebut dilanjutkan atau tidak terserah pengambil keputusan, sedangkan bila BCR kurang dari 0 (BCR < 0) maka usaha tersebut merugikan sehingga tidak layak untuk dilaksanakan.  Rumus BCR dapat ditulis sebagai
berikut :
                   

Dimana :
B = Nilai seluruh hasil
C = Nilai seluruh biaya

          Net BCR adalah perbandingan antara Present Value manfaat bersih positif dengan Present Value biaya bersih negatif. Seleksi formal Net BCR adalah bila Net BCR lebih besar dari 1 (Net BCR > 1) maka usaha tersebut menggambarkan keuntungan dan layak untuk dilaksanakan, namun bila Net BCR sama dengan 1 (Net BCR = 1) maka usaha tersebut tidak untuk dan tidak rugi (marjinal) sehingga dilaksanakan atau tidaknya usaha tersebut terserah pengambil keputusan, sedangkan bila Net BCR kurang dari 1 (Net BCR < 1) maka usaha tersebut merugikan sehingga tidak layak untuk dilaksanakan. 
          Rumus Net BCR dapat ditulis sebagai berikut :

         
Dimana :
B = nilai seluruh hasil bersih
C = nilai seluruh biaya bersih

Internal Rate of Return (IRR)

          Cara lain untuk menilai suatu usaha adalah dengan membandingkan nilai
IRR dengan discount rate (suku bunga), yaitu bila IRR lebih besar dari suku bunga yang telah ditetapkan maka usaha tersebut diterima atau bisa dilaksanakan, namun bila IRR lebih kecil dari suku bunga maka maka usaha tersebut ditolak atau tidak bisa dilaksanakan, sedangkan bila IRR sama dengan suku bunga yang ditetapkan maka usaha tersebut dilaksanakan atau tidak terserah pengambil keputusan. 
          Rumus IRR dapat ditulis sebagai berikut :

         


Dimana :
I’       = Tingkat discount rate (DR) pada saat NPV positif
I”       = Tingkat discount rate (DR) pada saat NPV negatif
NPV’ = Nilai NPV positif
NPV’ = Nilai NPV negatif

Analisis Break Event Point (BEP)

          Analisis BEP digunakan untuk mengetahui jangka waktu pengembalian modal atau investasi suatu kegiatan usaha atau sebagai penentu batas pengembalian modal.  Produksi minimal suatu kegiatan usaha harus menghasilkan atau menjual produknya agar tidak menderita kerugian, BEP adalah suatu keadaan dimana usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

                                                       TP
                     BEP                                                               TB = TBT + BV

                                                                                                          BV


                                             





                                                                                                            Q
Dimana :
TP      = Total Penerimaan
TB     = Total Biaya
TBT   = Total Biaya Tetap
TBV   = Total Biaya Variabel
Q       = Volume penjualan
BV    = Biaya Variabel per unit

          Titik BEP adalah pada saat total penerimaan sama dengan total biaya, yaitu TP = TB, karena TP = TBT + (BC.Q).
          Analisa BEP merupakan alat analisis untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha untuk mencapai nilai impas yang artinya suatu usaha tersebut tidak mengalami keuntungan ataupun kerugian. Suatu usaha dikatakan layak, jika nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedang diproduksi saat ini dan BEP harga harus lebih rendah daripada harga yang berlaku saat ini, dimana BEP produksi dan BEP harga dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

         
       
       


Aplikasi analisa usaha

          Dengan melakukan kegiatan budidaya ikan, diharapkan akan mendapatkan nilai tambah bagi para pembudidaya ikan. Nilai tambah tersebut dapat berupa keuntungan finansial/materi maupun ketrampilan.  Untuk memperoleh keuntungan materi maka dalam membudidayakan ikan harus dilakukan analisa usaha.  Seperti telah dijelaskan sebelumnya dalam kegiatan budidaya ikan dapat dikelompokkan menjadi tiga segmen usaha yaitu usaha pembenihan ikan, usaha pendederan ikan dan usaha pembesaran ikan. Dalam buku ini akan diuraikan secara singkat cara menghitung analisa usaha pada
beberapa kegiatan budidaya ikan.  Analisa usaha budidaya ikan dikatakan layak jika :
·         R/C > 1
·         Rentabilitas > bunga bank, dimana :
          R : Revenue (pendapatan)
          C : Cost (biaya)
         
·         BEP Produksi > jumlah produksi
·         BEP Harga < harga yang berlaku saat ini

Analisa Usaha Pembenihan Ikan Gurame

          Dalam membuat analisa usaha pembenihan ikan Gurame dibuat asumsi terlebih dahulu untuk memudahkan dalam melakukan perhitungan , antara lain adalah :
o   Jumlah induk yang dibutuhkan dengan luas kolam 100 m2 untuk satu kali pemijahan adalah 1 ekor induk jantan yang mempunyai berat 6 kg dan satu ekor induk betina yang beratnya 10 kg.
o   Jumlah benih yang dihasilkan dari satu ekor induk betina adalah 1500 ekor dengan ukuran benih perekor berkisar antara 2 - 3 cm
o   Kematian benih ikan selama pemeliharaan diprediksi 10%
o   Selama satu tahun dapat dilakukan pemijahan sebanyak 3 kali sehingga semua kebutuhan dalam usaha pembenihan ikan dalam setahun dikalikan 3
o   Bunga bank pertahun adalah 16%
o   Panen dapat dilakukan setelah tiga bulan pemeliharaan

          Setelah membuat beberapa asumsi asumsi tersebut dapat dibuat suatu perhitungan analisa usaha selama pemeliharaan.

Pengeluaran :

No.
Uraian
Satuan
Harga Satuan
Harga
1
Sewa kolam
2 unit
Rp 100.000,-
Rp 200.000,-
2
Induk jantan
6 kg
Rp 30.000,-
Rp 180.000,-
3
Induk betina
10 kg
Rp 30.000,-
Rp 300.000,-
4
Sarang telur
4 bh
Rp 5.000,-
Rp 20.000,-
5
Persiapan kolam
2 unit
Rp 50.000,-
Rp 100.000,-
6
Saprokan (pupuk,
kapur, obat-obatan
dan lain-lain)



Rp 100.000,-

7
Pakan induk (pellet)
150 kg
Rp 5.000,-
Rp 750.000,-
8
Pakan alami (untuk
benih dan induk)



Rp 200.000,-

9
Bunga bank
16%

Rp 296.000,-

Total Pengeluaran


Rp 2.257.000,-

Pendapatan :

16.200 ekor X Rp 200,- = Rp 3.240.000,-
Keuntungan                   = Pendapatan – Pengeluaran
                                      = Rp 3.240.000,- - Rp 2.257.000,- = Rp 983.000,-

R/C Ratio                      =  = 1.43   
         

Rentabilitas                    = 


Rentabilitas                    =   x 100% =  43,55 %


BEP Produksi                 = 


BEP Produksi                 = 


BEP Harga                     = 


BEP Harga                     = 


Analisa usaha Pendederan Ikan Gurame

Asumsi :
􀁸 Padat penebaran benih : 10 ekor/m2
􀁸 Kematian benih selama pemeliharaan : 10%
􀁸 Bunga bank 20% pertahun
􀁸 Panen benih dilakukan setelah tiga bulan pemeliharaan

          Setelah membuat beberapa asumsi asumsi tersebut dapat dibuat suatu perhitungan analisa usaha selama pemeliharaan.

Total Pengeluaran

No.
Uraian
Satuan
Harga
Satuan Harga
1.
Sewa kolam
1 unit
Rp 100.000,-
Rp 100.000,-
2.
Benih
6.000 ekor
Rp 200,-
Rp 1.200.000,-
3.
Pakan benih
250

Rp 1.250.000,-
4.
Persiapan kolam
1 unit
Rp 50.000,-
Rp 50.000,-
5.
Saprokan (pupuk,
kapur, obat-obatan
dan lain-lain)


Rp 100.000,-

6.
Bunga bank
16%

Rp 432.000,-

Total Pengeluaran


Rp 3.132.000,-

Pendapatan :

5.400 ekor X Rp 800,-    = Rp 4.320.000,-
Keuntungan                   = Pendapatan – Pengeluaran
                                      = Rp 4.320.000,- - Rp 3.132.000,- = Rp 1.188.000,-

R/C Ratio                      =  = 1,43

Rentabilitas                    = X 100%

Rentabilitas                    =  X 100% = 37,93%
BEP Produksi                 = 


BEP Produksi                 =  = 3915


BEP Harga                     = 


BEP Harga                     =     = 580

Analisa usaha Pembesaran Ikan Gurame

Asumsi :
􀁸 Padat penebaran benih : 10 ekor/m2
􀁸 Kematian benih selama pemeliharaan : 10%
􀁸 Bunga bank 20% pertahun
􀁸 Panen ikan dilakukan setelah delapan bulan pemeliharaan dengan ukuran    ikan pada saat panen adalah 500 ekor/gram
􀁸 Luas jaring yang digunakan jaring apung 7 X 7 X 3 m Setelah membuat beberapa asumsi asumsitersebut dapat dibuat suatu perhitungan analisa usaha selama pemeliharaan

Pengeluaran :

No.
Uraian
Satuan
Harga
Satuan Harga
1.
Sewa kolam
1 unit
Rp 200.000,-
Rp 200.000,-
2.
Benih
3500 ekor
Rp 800,-
Rp 2.800.000,-
3.
Pakan benih
2000

Rp 10.000.000,-
4.
Persiapan kolam
1 unit
Rp 50.000,-
Rp 50.000,-
5.
Tenaga kerja
1 org

Rp 700.000,-
6.
Bunga bank
16%

Rp 2.200.000,-

Total Pengeluaran


Rp 15.950.000,-
Panen = 3.150 ekor X 500 gram/ekor = 1.575.000 gram = 1.575 kg

Pendapatan :

1.575 kg X Rp 15.000,- = Rp 23.625.000,-
Keuntungan                   = Pendapatan – Pengeluaran
                                      = (Rp 23.625.000,-) - (Rp 15.950.000,-) = Rp 7.675.000,-

R/C Ratio                      =   = 1,48


Rentabilitas                    = X 100%


Rentabilitas                    = X 100% = 48,12%


BEP Produksi                 =


BEP Produksi                 = = 1063,33


BEP Harga                     =


BEP Harga                     = = 10.126,98











DAFTAR PUSTAKA


Dedy H. Karwan, Drs., MM.  2007.  Modul Kompetensi Membuat Perencanaan Usaha Perbenihan.  Departemen Pendidikan Nasional.

Gusrina.  2008.  Budidaya Ikan Jilid 3.  Departemen Pendidikan Nasional.

Hanafiah A.M., Ir., Saefuddin A.M., Ir., Dr.  2006.  Tata Niaga Hasil Perikanan.  UI – Press.  Jakarta.
































                                                                                                                         

MEMBUAT ANALISA
USAHA BUDIDAYA IKAN






Di Susun Oleh :

HERMAN, S.Pi





SMK NEGERI 3 BULUKUMBA
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
KABUPATEN BULUKUMBA