SEKILAS RENUNGAN

"Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati." (Al-Furqan :58).

"Dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik - baik Pelindung." (Ali Imran : 173).

"Sesungguhnya Allah mencintai orang - orang yang bertawakkal." (Ali Imran : 159).

Jumat, 27 April 2012

IDENTIFIKASI PAKAN ALAMI


BAB I

IDENTIFIKASI JENIS – JENIS PAKAN ALAMI


1.           Defenisi Pakan Alami

Apakah pakan alami itu?  Sebelum membicarakan pakan alami perlu dipahami terlebih dahulu arti katanya.  Pakan merupakan peristilahan yang digunakan dalam dunia perikanan yang mempunyai arti makanan.  Alami menurut arti katanya adalah sesuatu yang berasal dari alam.  Oleh karena itu, pakan alami bisa diartikan sebagai  pakan yang berasal dari alam yang dijadikan sebagai sumber makanan bagi organisme budidaya utamanya yang masih berbentuk larva dan ketersediaannya dapat diusahakan atau dibudidayakan.
Dalam kenyataan sehari – hari, ada dua macam pakan yang umumnya diberikan kepada organisme budidaya yaitu pakan alami dan pakan buatan.  Pakan alami umumnya diberikan kepada organisme budidaya yang masih stadia larva karena ukuran pakan alami cocok dengan bukaan mulut larva sedangkan pakan buatan umumnya diberikan kepada organisme budidaya yang sudah berukuran besar.  Pakan alami memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pakan buatan yaitu nilai gizinya sangat lengkap dan sesuai dengan tubuh ikan, tidak menyebabkan penurunan kualitas air pada wadah budidaya ikan, meningkatkan daya tahan tubuh benih ikan terhadap penyakit dan perubahan kualitas air, mudah ditangkap karena pergerakan pakan alami tidak begitu aktif dan berukuran kecil sesuai dengan bukaan mulut larva.

2.     Jenis – Jenis Pakan Alami
Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang, atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus.  Istilah “plankton” diperkenalkan oleh Victor Hensen tahun 1887, yang berasal dari bahasa Yunani,”planktos”, yang berarti menghanyut atau mengembara.
Plankton sebagai pakan alami dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu plankton nabati atau fitoplankton dan plankton hewani atau zooplankton.  Tetapi menurut ekologi dan cara hidupnya, plankton dibedakan menjadi 3 golongan yaitu epiphyton (peryphyton), nekton, dan benthos.  Epiphyton adalah jenis plankton, baik phytoplankton maupun zooplankton yang hidup menempel pada benda – benda air atau melayang – layang dalam air.  Nekton adalah jenis plankton yang bisa bergerak aktif.  Sedangkan benthos adalah jenis plankton yang hidup menetap di bagian dasar perairan.
Pakan alami tumbuh subur pada perairan yang banyak mengandung bahan – bahan organik dan anorganik serta menerima sinar matahari secara langsung.  Tetapi pakan ini bisa pula ditumbuhkan dalam tempat yang sempit, tertutup dan di dalam media yang terbatas asalkan memenuhi persyaratan tumbuh, seperti suhu, intensitas cahaya, dll.  Tidak semua jenis plankton memenuhi persyaratan untuk dijadikan pakan alami.  Beberapa faktor yang dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan apakah jenis plankton itu termasuk kategori pakan alami adalah sebagai berikut :
a.      Bentuk dan ukuran sesuai dengan lebar bukaan mulut ikan pemakannya
b.      Mudah diproduksi secara massal
c.       Kandungan sumber nutrisinya tinggi
d.      Isi sel padat dan mempunyai dinding sel tipis sehingga mudah dicerna oleh ikan
e.      Cepat berkembangbiak dan memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan sehingga lestari ketersediaannya
f.        Tidak mengeluarkan senyawa beracun
g.      Gerakannya menarik bagi ikan tetapi tidak terlalu aktif sehingga mudah ditangkap.
Pada materi ini, yang akan dibahas adalah golongan pakan alami yang terdiri dari Fitoplankton, Zooplankton, dan Bentos beserta jenis – jenisnya.

BAB II
PHYTOPLANKTON

1.     Defenisi Phytoplankton
Phytoplankton adalah organisme air yang berukuran kecil yang melayang – layang mengikuti pergerakan air dan berupa jasad nabati.  Ukurannya sangat kecil, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.  Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 – 200 µm (1 µm = 0,001 mm).  Umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai.  Meskipun ukurannya sangat halus namun bila mereka tumbuh sangat lebat dan  padat bisa menyebabkan perubahan pada warna air laut yang bisa terlihat.  Phytoplankton merupakan jenis plankton yang umumnya beraktifitas pada pagi hingga siang hari. Hal ini dikarenakan phytoplankton merupakan jenis tumbuhan mikroskopis yang dapat berfotosintesis.  Adapun ciri – ciri phytoplankton  lebih lengkapnya sebagai berikut :
  • Merupakan produsen
  • Berbentuk filamen, atau multisel
  • melayang-layang di air – gerakannya mengikuti arus, angin, ombak
  • merupakan organisme laut yang menjadi makanan utama bagi ekosistem laut
  • mampu memproduksi makanannya sendiri melalui proses fotosintesis. (senyawa anorganik, nitrat, fosfat, energi matahari dan CO2)
  • Selalu  di permukaan air, karena sebagai tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk fostosintesa
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut, karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya.  Karena kemampuannya memproduksi bahan organik dari bahan inorganik dengan proses fotosintesis maka fitoplankton disebut juga sebagai produsen primer (primary producer).
Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassar di laut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja.  Phytoplankton yang hidup di dalam perairan ini akan memberikan warna  yang khas pada perairan tersebut seperti berwarna hijau, biru atau cokelat.  Hal ini dikarenakan di dalam tubuh phytoplankton terdapat zat warna atau pigmen.  Zat warna atau pigmen ini dapat diklasifikasikan seperti berikut.
1.      Warna biru (Fikosianin)
2.      Warna hijau (Klorofil)
3.      Warna pirang (Fikosantin)
4.      Warna merah (Fikoeritrin)
5.      Warna kuning (Xantofil)
6.      Warna keemasan (Karoten)
2.      Jenis – Jenis Phytoplankton

            Untuk mengetahui lebih jauh tentang jenis – jenis phytoplankton terlebih dahulu harus kita ketahui  sistem taksonomi atau klasifikasi dari phytoplankton.  Taksonomi tumbuh-tumbuhan berbeda dengan atau tidak tergantung pada taksonomi hewan, walaupun takson-takson tingkat menengah dan bawah sama dengan takson hewan seperti suku, marga dan jenis.  Dunia tumbuh-tumbuhan dibagi menjadi empat divisi utama, yakni Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta dan Spermatophyta.  Dari keempat divisi ini, hanya Thallophyta dan Spermatophyta yang terdapat di laut.  Bryophyta dan Pteridopyta khusus tumbuh-tumbuhan darat. 
Karena kita berbicara tentang phytoplankton, maka kita hanya akan membahas tentang divisi utama Thallopyta.  Hampir semua kelompok tumbuh-tumbuhan laut termasuk dalam divisi ini.  Sifat khas divisi ini adalah primitif, artinya badannya sedikit atau tidak terbagi-bagi dalam alat vegetatif seperti akar yang sebenarnya, ranting atau cabang dan daun.  Kelompok dari divisi ini adalah alga laut dan bakteri laut.  Kita tidak membahas tentang bakteri laut karena bukan bidang telaahan kita pada materi kita kali ini.
Sebagian besar alga laut berwarna indah dan ada pula yang bercahaya.  Hal ini disebabkan oleh pigmen – pigmen dari kromatofor (chromatophore) menyadap sinar matahari untuk fotosintesis.  Pembagian kelas dari divisi ini didasarkan pada perbedaan warna yang dimiliki.  Kelas – kelas tumbuhan dari Thallophyta adalah :
1.      Myxophyceae (Alga hijau – biru)
2.      Chlorophyceae (Alga hijau)
3.      Phaeophyceae / Bacillariophyceae (Alga coklat)
4.      Rhodophyceae (Alga merah)
5.      Chrysophyceae (Alga hijau – kuning)
Telah disebutkan di atas bahwa warna memberi sifat kelas tumbuh – tumbuhan laut ini tetapi sifat – sifat lain yang berkaitan dengan struktur sel dan daur hidup lebih fundamental dalam membeda – bedakan kelima kelas alga laut tersebut.  Setiap kelompok mempunyai bentuk yang sangat beragam.
a.      Myxophyceae (Alga hijau – biru)
Kelas ini terdiri dari tumbuh – tumbuhan kecil yang kurang terorganisasi, beberapa diantaranya terdiri dari tumbuh – tumbuhan bersel tunggal dan lainnya bersel banyak.  Warna tumbuh – tumbuhan ini disebabkan terdapatnya pigmen tambahan terlarut dalam air yang dinamakan fikosianin (phycocyanin).
Dinding sel dari kelompok ini biasanya terdiri dari bahan kitin, bukan selulosa seperti yang dimiliki oleh tumbuh – tumbuhan lain.  Beberapa bersifat endofitik (endophytic), yaitu mereka yang hidup di dalam tubuh tumbuh – tumbuhan lain dalam suatu asosiasi yang dinamakan simbiosis.  Misalnya di dalam sel diatom, Rhizosolenia, mungkin hidup alga jenis Richelia intracellularis.
Perkembangbiakan dilakukan dengan pembelahan aseksual.  Sederhananya adalah satu sel tumbuhan membelah menjadi dua sel tumbuhan yang lebih kecil ukurannya.  Setelah tumbuh kemudian membelah menjadi dua dan seterusnya.  Jenis alga yang membentuk rantai sel, rantai itu membelah menjadi bagian – bagian yang lebih kecil sebagai tubuh perkembang – biakan yang dinamakan hormogonia (Y : hormos = rantai; gone = generasi).  Pembelahan sel dalam hormogonia menambah panjangnya rantai.  Contoh : Richelia intracellularis, anabaena torulosa, trychodesmium erythraeum, T. contortum, T. thiebauti, T. hildebrantii.
Sebaran kelompok ini lebih banyak di air tawar dan payau sedangkan di laut kurang penting.  Di perairan laut bersuhu hangat mereka pada saat – saat tertentu menimbulkan gejala lendir.
b.      Chlorophyceae (Alga hijau)
Sesuai dengan namanya, kelompok alga ini berwarna hijau.  Pigmen dari kloroplas (chloroplast), yakni bentuk sel yang mengandung pigmen untuk fotosintesis, mencakup dua jenis klorofil, yakni klorofil-a dan klorofil-b, dan berbagai karotinoid.  Warna kuning dan oranye dari pigmen karotinoid tertutup oleh berlimpahnya klorofil yang berwarna hijau.
Perkembangbiakan dilakukan dengan cara seksual dan aseksual.  Alga hijau terdapat terutama di mintakat litoral bagian atas, khususnya di belahan bawah dari mintakat pasut, dan tepat di daerah bawah pasut sampai kejelukan 10 meter atau lebih, jadi di habitat yang mendapat penyinaran matahari bagus.  Alga ini terdapat berlimpah di perairan hangat (tropik).  Di laut Kutub Utara, alga hijau ini lebih jarang ditemukan dan bentuknya kerdil.  Beberapa contoh marga dari alga hijau yaitu Caulerpa (C. racemosa, C. Sertularioides, C. Prolifera, C. floridana), Ulva (U. Reticulata, U. lactuca), Valonia (Valonia ventricosa), Dictyosphaera (Dyctyosphaera cavernosa), Halimeda(H. scabra, H. fragilis, H. opuntia, H. monile, H. Incrassata), Chaetomorpha (C. crassa), Codium (C. tomentosum, C. decorticatum), Udotea, Tydemania (T. expeditionis), Bernetella (B. nitida), Burgesenia(B. forbesii), Neomeris (N. annulata).
c.       Phaeophyceae (Alga coklat)
Alga coklat hampir semuanya tumbuh – tumbuhan laut, hanya sedikit yang hidup di air tawar.  Pigmen – pigmen dari kelas ini terdiri dari klorofil yang ditutupi oleh pigmen – pigmen kuning dan coklat, santofil (xanthophyll), karoten dan fukosantin (fucoxanthin).  Merupakan kelompok alga yang terbesar ukurannya diantara kelompok alga laut.
Alga coklat berkembang sangat baik di perairan dingin, karenanya alga ini khas tumbuh – tumbuhan pantai berbatu di daerah lintang tinggi.  Sedangkan Sargassum dan alga lain dari ordo Fucales merupakan alga dari perairan tropik dan subtropik.  Alga coklat berkembang biak secara seksual.
Di Indonesia ada delapan marga alga coklat yang sering ditemukan yaitu Cystoseira sp, Dictyopteris sp, Dictyota, Hormophysa, Hydroclathrus, Padina, Sargassum, dan Turbinaria.
d.      Rhodophyceae (Alga merah)
Hampir semua alga merah adalah tumbuh – tumbuhan laut.  Diantara kelompok – kelompok alga laut, alga merah yang teramat mencolok dalam hal warna.  Beberapa diantaranya bercahaya.  Banyak dari jenis – jenis yang kecil sekali ukurannya merupakan benda – benda makroskopik yang indah.  Pigmen – pigmen ari kromatofor terdiri dari klorofil biasa bersama – sama dengan santofil, karotin dan sebagai tambahan fikoeritrin yang merah dan kadang – kadang fikosianin.
Berbagai warna tumbuh – tumbuhan terdapat dalam kelompok alga ini.   Ada yang merah ungu, violet, dan cokelat  atau hijau.  Jenis – jenis yang tumbuh di tempat yang jeluk berwarna cokelat murni.  Ini mungkin berkaitan dengan kemampuan mensintesis secara efisien pada cahaya yang redup pada perairan yang jeluk dibandingkan dengan jenis – jenis yang hidup di perairan dangkal.


BAB III

ZOOPLANKTON

1.     Defenisi Zooplankton
Zooplankton, disebut juga plankton hewani, hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam perairan.  Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya.  Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik.  Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya.  Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik.
Ukurannya yang paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur – ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter.  Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipod (amphipod), kaetognat (chaetognath).  Zooplankton dapat dijumpai hampir di semua perairan mulai dari tawar, estuaria sampai laut.
Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam.  Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan.  Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa telur dan larva.  Baru dikemudian hari menjelang dewasa, sifat hidupnya yang semula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau bentos.

2.       Jenis – Jenis Zooplankton
     Meskipun jumlah, jenis, dan kepadatannya lebih rendah daripada fitoplankton, mereka membentuk kelompok yang lebih beraneka ragam.  Setidak – tidaknya ada 12 filum yang mewakili kelompok zooplankton ini dan ukurannnya sangat beragam, dari yang sangat kecil atau renik sampai yang garis tengahnya lebih dari satu meter.
2.1              Tintinid
Hewan yang hidup sebagai plankton yang paling primitif adalah hewan dari filum Protozoa.  Hewan ini bersel tunggal, yang mempunyai sitoplasma, sitomembran (dinding sel) dan satu atau lebih inti (nucleus).  Protozoa mempunyai keanekaragaman jenis yang sangat tinggi tetapi yang hidup di laut sebagai plankton umumnya dapat digolongkan dalam kelas Ciliata (Infusoria) dan Sarcodina (Rhizopoda).  Salah satu bangsa (ordo) terpenting di bawah Ciliata ini adalah Tintinnida atau dengan sebutan akrab tintinid, sedangkan kelompok lainnya yang penting di bawah Sarcodina adalah Foraminifera (lazim disebut foram) dan Radiolaria.
Tintinid mempunyai banyak jenis yang hidup sebagai plankton.  Ukurannya beragam yang umumnya berkisar dari 30 – 150 µm.  Pada umumnya tintinid mempunyai bentuk seperti piala, tabung, gentong, atau seperti genta (bell).  Beberapa contoh marga yang umum dijumpai antara lain Tintinnopsis, Stenosemella, Codonellopsis, Helicostomella, Favella, Parafavella dan Epilocylis.
Dari segi sebaran vertikalnya, tintinid umumnya hidup di lapisan permukaan, tidak lebih dari kedalaman 100 meter.  Persebaran tintinid ada juga yang mengalami perubahan musiman.  Di pantai Cina misalnya, Tintinnopsis merajai pada musim semi (spring), sedangkan pada musim panas Favella yang merajai.  Tintinid mempunyai peran penting dalam ekosistem laut, sebagai makanan bagi berbagai larva ikan, udang, dan moluska.  Oleh karena itu kehadirannya akan sangat menunjang keberhasilan produksi jenis – jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomi penting.
2.2              Foram
Foram adalah nama singkat atau nama umum yang digunakan untuk merujuk pada hewan dari bangsa (ordo) Foraminifera, yang berada di bawah kelas Sarvodina, filum Protozoa.  Foram mempunyai cangkang yang berbahan kapur karbonat.  Ada dua tipe foram, yakni tipe yang tak berlubang – lubang dan tipe yang berlubang - lubang.
Foram mempunyai ukuran yang beragam, dari sekitar 100 µm hingga lebih dari 1 mm.  Identifikasi dan klasifikasi foram lazim didasarkan pada ciri – ciri cangkangnya, seperti misalnya komposisi dan strukturnya, ornamentasi pada permukaannya, susunan dan tata ruang sel, bentuk dan posisi lubang dan ciri – ciri lainnya.  Sementara hewan itu bertumbuh, jumlah ruang selnya pun bertambah.  Antara ruang yang satu dengan yang lain terdapat lubang kecil yang membentuk saluran.
Foram di laut mempunyai jenis yang sangat banyak, diperkirakan lebih 4000 jenis, tetapi hanya sekitar 40 jenis yang hidup sebagai plankton.  Selebihnya merupakan jenis foram yang hidup sebagai bentos, atau hidup di dasar laut.  Sebarannya mulai dari perairan pantai hingga ke perairan oseanik.  Marga foram plankton yang umum dijumpai, antara lain Globigerina, Globigerinoides, Globigerinita, Globigerinella, Neogloboquadrina, Globigerinoides, Globigerinita, Globigerinella, Neogloboquadrina, dan Pulleniatina

2.3              Radiolaria
Radiolaria merupakan zooplankton yang tergolong dalam kelas Sarcodina, filum Protozoa.  Hewan ini umumnya mempunyai bentuk cangkang yang bulat, dengan berbagai variasi struktur yang umumnya mempunyai simetri radial, memencar.  Itu pula sebabnya ia dinamai Radiolaria.  Kerangkanya berupa jejaring yang membentuk pola geometri yang simetris menampilkan bentuk yang sangat indah.  Apalagi bahan pembentuk kerangkanya itu terbuat dari bahan silika berupa kristal gelas opal, bagaikan karya seni yang tiada bandingannya.  Namun bentuknya dalam jalinan yang rumit nan indah itu detailnya hanya dapat dikagumi lewat mikroskop, karena ukurannya sangat kecil.  Ukuran sel radiolaria umumnya berkisar antara 30 µm hingga 2mm.  Ciri – ciri kerangkanya, misalnya bahan pembentuknya dan morfologinya, menjadi dasar yang penting untuk identifikasi.  Bentuk selnya mempunyai banyak perlanjutan bagaikan duri, akan memperbesar total permukaan luas selnya hingga akan membantu pula dalam daya apungnya (buoyancy) dalam air.
Radiolaria terdapat meluas di laut, tatapi lebih banyak ditemui di perairan tropis, biasanya pada perairan lepas pantai dengan salinitas di atas 30 psu.  Hewan ini terbanyak dijumpai di laut lapisan teratas hingga kedalaman beberapa ratus meter, meskipun ada juga dilaporkan yang hidup di lapisan yang lebih dalam.  Sebaran geografiknya, baik di permukaan maupun di bawah permukaan, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor oseanografi setempat, seperti suhu salinitas, dan arus.
2.4              Ubur – ubur
Ubur – ubur plankton yang hidup di laut amat beragam, dari berukuran kecil hingga yang berukuran raksasa.  Namun yang dianggap sebagai ubur – ubur sejati yang sangat umum dijumpai di laut adalah dari kelas Scyphozoa (Scyphomedusae).  Diperkirakan ada sekitar 200 jenis.  Hidupnya di seluruh laut, dari permukaan hingga laut dalam.  Sebagian besar tubuh ubur – ubur terdiri dari air (bisa sekitar 95 – 99) yang membuat daya apungnya (buoyancy) sangat cocok untuk hidup melayang dalam laut.
2.5              Ktenofor
Istilah Ctenophora berasal dari bahasa Yunani kuno, ”ctena” = sisir dan “phora” = mempunyai atau memiliki.  Jadi keseluruhannya berarti yang mempunyai sisir.  Dinamakan demikian karena filum ini memiliki alat tubuh yang dapat bergetar yang memungkinkannya untuk bergerak.  Dalam perkembangbiakannya, ktenofor umumnya bersifat hermaprodit artinya seekor hewan dapat menghasilkan sekaligus sel kelamin jantan dan betina.  Setelah dipijahkan, keduanya akan menyatu dalam proses pembuahan dan selanjutnya menjadi larva hingga menjadi dewasa.
Ktenofor juga dikenal dapat menghasilkan bioluminisensi (bioluminescence) atau cahaya hayati yang menghasilkan cahaya kebiru – biruan.  Selain itu, kibaran sisir – sisirnya juga dapat menghasilkan   cahaya (light-scattering) yang membuat penampilan hewan ini menarik.
Seluruh jenis yang berada di bawah filum Ctenophora hidup di laut dan sebagian besar hidup sebagai plankton.  Penyebarannya mulai dari perairan pantai hingga perairan samudra (oseanik).  Penyebaran tiap jenis ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, dan faktor lainnya.  Jumlah seluruh jenis spesies dibawah filum ini diperkirakan di seluruh laut dunia hanya ada sekitar 100 – 150 jenis, tetapi masih banyak yang belum dikenal. 

2.6              Kaetognat
Chaetognatha merupakan filum dalam dunia hewan yang seluruh jenisnya hidup di laut.  Nama Chaetognatha berasal dari bahasa Yunani kuno, “chaete” = bulu kaku (bristle), dan “gnathos” = rahang, jadi keseluruhannya bermakna “yang mempunyai rahang berbulu – kaku”.  Nama itu diberikan karena memang ia mempunyai rahang yang bnetuknya bagai bulu kasar dan kaku, yang digunakan untuk menangkap mangsanya.  Rahang ini berupa sepasang rangkaian bulu kasar yag dapat dikuncupkan, sedangkan bila akan menerkam mangsanya rahangnya dapat dimekarkan. 
Kaetognat merupakan hewan pemangsa yang buas dan rakus.  Makanannya termasuk berbagai zooplankton, misalnya kopepod bisa mencapai 95 % dari konsumsinya. Tetapi hewan besar, termasuk larva ikan dapat pula diserang dan dimakannya.  Kemampuan renangnya yang dpaat melesat, dan bentuk tubuhnya yang  umumnya langsing memanjang dan silindris, menyebabkan hewan ini dijuluki “arrow worm” atau “cacing panah” meskipun tak ada hubungannya dengan cacing yang biasa kita kenal.
Kaetognat umumnya berukuran sekitar 2 – 3 cm, tetapi ada juga yang bisa mencapai 5 – 10 cm.  Diperkirakan di seluruh laut dunia terdapat sekitar 100 jenis yang berada di bawah 15 marga, tetapi yang hidup sebagai plankton hanya ada enam marga, yang umum ialah Sagitta, Eukrohnia, Pterosagitta, Spadella, Heterokrohnia, dan Krohnitta.  Yang paling banyak jenisnya adalah Sagitta.  Hewan ini bisa dijumpai mulai dari perairan pantai hingga di perairan oseanik.
2.7              Kopepod
            Kopepod adalah nama umum yang diberikan untuk hewan dai subkelas Copepoda, dibawah kelas Krustasea, filum Arthropoda.  Nama Copepoda berasal dari bahasa Yunani kuno “cope”  = dayung dan “poda” = kaki, atau keseluruhannya berarti yang mempunyai kaki dayung.  Diberi nama demikian karena kopepod mempunyai kaki-kaki renang yang kuat yang memungkinkannya sewaktu waktu dapat berengan melesat dengan kecepatan tinggi dengan gerakan yang menyentak nyentak.
Di dunia diperkirakan ada sekitar 12.000 jenis kopepod, tetapi tidak semua hidup sebagai plankton.  Kopepod hidup di perairan tawar, payau maupun di perairan oseanik.  Ada kopepod yang hidup sebagai parasit pada ikan, ada pula yang hidup sebagai bentos (hidup di dasar laut).  Tetapi yang paling banyak terdapat di laut adalah kopepod plankton.  Ukuran kopepod relatif kecil, sekitar 0,5 – 2 mm, meskipun ada pula yang berukuran relatif besar, sampai sekitar 1 cm atau lebih. 
Sebagian besar kopepod plankton hidup sebagai herbivor, yang menyantap fitoplankton, misalnya diatom.  Namun tidak semua kopepod bersifat herbifor, ada juga sebagian yang hidup sebagai karnivor dengan memangsa zooplankton lainnya meskipun jenis semacam ini jumlahnya tidak banyak.  Contoh yang bersifat karnivor yaitu kebanyakan kopepod siklopoid dan beberapa jenis kalanoid misalnya Tortanus.
Kopepod plankton pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama yakni bangsa kalanoid (calanoid/Calanoida), siklopoid (cyclopoid/Cyclopida) dan harpaktikoid (harpacticoid/Harpacticoida).
2.8              Berbagai Plankton Krustasea selain Kopepod
Krustasea (Kelas Crustasea) mempunyai jenis yang sangat banyak yang hidup di laut.  Kepiting, rajungan, udang adalah contoh yang sangat umum dikenal.  Siklus hidup mereka diawali dari telur dan larva yang hidup sebagai plankton.  Namun setelah dewasa mereka tidka lagi sebagai plankton, tetapi berubah dengan hidup berenang bebas atau hidup di dasar laut.  Jadi hanya awal kehidupannya saja sebagai plankton, atau disebut sebagai meroplankton.  Disamping itu banyak pula krustasea yang seluruh siklus hidupnya dijalaninya sebagai plankton dan disebut holoplankton.  Krustasea yang paling banyak hidup sebagai holoplankton, baik dilihat dari segi keanekaragamannya maupun kelimpahannya, adalah kopepod (copepod, subkelas Copepoda).  Tetapi selain kopepod, terdapat berbagai jenis krustasea lain yang juga hidup sebagai holoplankton.  Atau sebagai tikoplankton, yakni hidup di dasar tetapi sewaktu – waktu dapat naik ke atas dan mengembara sebagai plankton.  Jumlah jenisnya memang relatif tak banyak tetapi mereka mempunyai relung (niche) tersendiri dalam berfungsinya ekosistem laut.  Di antaranya ada juga yang mempunyai nilai ekonomi.  Beberapa diantaranya dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
2.8.1        Kladosera
Kladosera (cladocera, subkelas Cladocera) merupakan kelompok krustasea yang sederhana, berukuran kecil, sekitar 0,5 – 1 mm.  Kladosera sebenarnya lebih banyak hidup di lingkungan air tawar, dan dikenal sebagai kutu air (water fleas).  Hanya sedikit yang hidup di laut.  Diperkirakan kladosera hanya mempunyai 11 jenis yang murni hidup di laut.  Salah satu ciri kladosera adalah kemampuannya untuk berpartenogenesis yang maksudnya sang betina dapat menghasilkan keturunannya tanpa membutuhkan sang jantan untuk membuahi telur.
Marga yang paling umum dijumpai adalah Penilia, Podon, dan Evadne.  Mereka biasanya hidup di perairan neritik dekat pantai, kadang kala sampai jauh ke tengah.  Arus dan massa air tampaknya sangat menentukan persebarannya hingga jenis tertentu seperti Penilia avirostris dapat dijadikan sebagai jenis indikator massa air untuk perairan pantai.


2.8.2        Ostrakod
Ostrakod (ostracod, subkelas Ostracoda) merupakan krustasea berukuran kecil, sekitar 1 – 2 mm, meskipun ada juga yang bisa berukuran lebih besar.  Tubuhnya mempunyai cangkang yang keras berzat kapur, bentuknya setangkup dengan engsel di bagian punggung, sepintas lalu tampilannya mirip kerang pada moluska.  Fosil ostrakod banyak digunakan dalam kajian palaeontologi, geologi, dan dalam eksplorasi sumberdaya minyak bumi.  Hewan ini ada yang hidup di dasar, atau dekat dasar, tetapi banyak pula yang sepenuhnya hidup sebagai plankton.  Ostrakod juga dapat menghasilkan turunannya lewat partenogenesis atau tanpa membutuhkan jantan untuk membuahi telur.  Juga banyak yang dapat menghasilkan cahaya hayati atau bioluminisensi, misalnya Cypridina.
2.8.3        Amfipod
Amfipod (amphipod, ordo Amphipoda) mempunyai ciri tubuh yang beruas – ruas dan pipih kiri – kanan (laterally compressed), mempunyai mata yang jelas, serta umbai – umbai (appendages) dengan struktur dan fungsi yang berbeda – beda.  Sebenarnya banyak amfipod hidup sebagai bentos (di dasar laut) tetapi ada pula beberapa jenis yang sepenuhnya hidup sebagai plankton (holoplankton) misalnya amfipod dari sub-ordo Hyperiidea, yang dapat merupakan komponen penting dalam zooplankton laut.  Kelompok ini malah mempunyai sebaran yang luas di dunia, terutama di perairan tropis dan subtropis.  Amfipod juga mempunyai peran penting sebagai makanan bagi berbagai jenis ikan termasuk jenis – jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi.  Umumnya amfipod adalah karnivor yang memangsa berbagai plankton lainnya termasuk larva ikan.
2.8.4        Misid
Misid (mysid, ordo Mysidacea) mempunyai bentuk umum yang mirip dengan udang.  Ciri yang khas pada hewan ini adalah adanya sepasang statosis (statocyst) yang bundar di pangkal ekornya.  Ukuran misid bervariasi antara 5 – 25 mm.  Diperkirakan misid mempunyai sekitar 780 jenis, yang sebagian besar hidup di laut.  Ada yang hidup di perairan pantai tetapi ada juga yang hidup di laut dalam.  Di perarian dangkal ada yang hidup di dasar laut tetapi pada malam hari melakukan migrasi vertikal ke permukaan dan dapat tertangkap sebagai plankton.  Beberapa jenis juga dapat dijumpai di perairan payau, di lingkungan  mangrove, atau masuk ke tambak – tambak ikan.  Banyak jenis misid ini hidup berkelompok dan sering ditangkap dalam kegiatan perikanan.  Beberapa contoh misid yaitu Anchialina, Siriella, Neomysis.
2.8.5        Eufausid    
Eufausid (euphausid, suku Euphausiidae, ordo Euphausiacea) mempunyai bentuk yang juga mirip dengan udang, dan dekat kekerabatannya dengan misid.  Ukurannya berkisar 1 – 5 cm.  Eufausid menempati tempat kedua setelah kopepod sebagai komponen uta              ma dalam komunitas zooplankton di laut.  Eufausid terdapat mulai dari perairan pantai sampai ke perairan oseanik, dari perairan tropis hingga ke periaran kutub.  Ada jenis yang hidup di lapisan permukaan tetapi ada juga yang hidup di lapisn laut dalam.  Eufausid juga dikenal sering bergerombol dalam kelompok yang besar, yang terkait dengan masa perkawinan dan pemijahannya.  Berapa marga yang penting antara lain Euphausia, Thysanopoda, Thysanoessa, Nyctiphanes, Pseudeuphausia, Nematoscelis.  Di Laut Jawa antara lain terdapat jenis Psuedophasia latifrons.
2.8.6        Sergestid
Sergestid (sergestid, suku Sergestidae, ordo Decapoda) juga merupakan plankton yang  bentuk umumnya mirip dengan udang.  Jenisnya tidak banyak, tetapi sering jumlahnya besar hingga memberi sumbangan yang penting pula bagi perikanan.  Ada tiga marga yang umum dijumpai yakni Sergestes, Acetes, dan Lucifer.  Umumnya sergestid hidup di lapisan permukaan laut, terutama di perairan pantai sampai ke perairan muara (estuaria).  Makanan utamanya adalah fitoplankton.
2.9              Moluska
Moluska laut yang sering kita kenal seperti berbagai jenis kerang, keong, cumi – cumi, umumnya menjalani hidupnya sebagai plankton hanya pada awal kehidupannya saja, yakni ketiak masih sebagai larva (sebagai meroplankton).  Setelah dewasa mereka hidup di dasar laut (sebagai bentos, misalnya kerang) atau berenang bebas aktif (sebagai nekton, misalnya cumi – cumi).  Tetapi sebenarnya ada juga moluska yang seluruh hidupnya dijalaninya sebagai plankton (holoplankton) yang mengambang atau melayang dalam laut.  Jumlah jenisnya memang relatif tidak banyak tetapi mereka merupakan komponen ekosistem yang mempunyai kontribusi dalam berfungsinya ekosistem laut.  Moluska yang hidup sebagai holoplankton ini sering pula disebut sebagai moluska plankton (planktonic mollusc) atau moluska pelagis (pelagis mollusc).  Beberapa contoh moluska  yang hidup sebagai plankton di laut yaitu Pteropod (Clione, Creseis, Hyalocyclix, Euclio, Diacria, Cavolinia, Limacina (Spiratella), Peraclis), Heteropod (Atlanta, Carinaria, Pterotrachea), Mesogastropod (Janthna, Glaucus).
2.10          Tunikata
Tunikata (tunicate, Tunicata), sering pula disebut Urochordata, adalah anggota filum Chordata yang sangat primitif.  Tunikata merupakan biota yang menarik karena  pada larvanya terdapat notokorda (notochord) atau sumbu kerangka, yang menunjukkan adanya hubungan kekerabatan yag sangat dekat dengan hewan tingkat lebih tinggi, yang mempunyai vertebra (struktur yangmembentuk kerangka tulang belakang), yang dikenal sebagai hewan vertebrata.
Tunikata mempunyai kekhasan dengan mempunyai kulit luar (=tunik, tunic) yang mengandung bahan tipe selulosa yang sangat jarang terdapat pada hewan tetapi jamak pada tumbuhan.  Bahan ini terbuat dari tunisin (tunicin).  Dari sinilah kelompok hewan ini mendapatkan namanya, tunikata.
Tunikata dapat dibagi atas tiga kelompok besar, yakni asidiasea (Ascidiacea), larvasea (Larvacea), dan taliasea (Thaliacea).  Asidiasea dewas hidup di dasar laut, sedangkan dua kelompok lainnya (larvasea dan taliasea) sepenuhnya hidup sebagai plankton.  Oleh sebab itu, asidiasea disebut juga tunikata bentik (benthic tunicate atau sessile tunicate), yang hidup di dasar laut, sedangkan kedua kelompok lainnya sebagai tunikata pelagis (pelagic tunicate) yang hidup sebagai holoplankton (seluruh daur hidupnya sebagai plankton).
2.11          Iktioplankton
Iktioplankton (icthyoplankton) adalah telur dan larva ikan yang hidup sebagai plankton.  Setelah dewasa mereka akan berubah, hidup sebagai ikan yang nektonik, yang dapat berenang bebas.  Jadi sebenarnya iktioplankton itu adalah meroplankton juga namun istilah iktioplankton merujuk khusus untuk kelompok ikan.
Ketika baru saja menetas, larva ikan umumnya transparan, elum bisa mencari makan, mulut dan saluran pencernaannya belum berkembang.  Ia masih bergantung pada cadangan makanan yang berupa kuning telur yang masih banyak dikandungnya.  Tetapi lama – kelamaan kuning telur ini akan habis terserap, dan sang larva pun baru mulai mencari makan dari sumber yang ada disekitarnya, seiring dengan mulai berkembangnya saluran pencernaannya.  Dalam perkembangan selanjutnya larva tidak saja makin besar ukurannya, tetapi juga mulai terdapat tanda – tanda yang spesifik untuk tiap jenis, misalnya pola pigmentasi yang mulai muncul pada tubuhnya, pertumbuhan sirip, perkembangan garis – garis otot (myotome), posisi dan bentuk mata.
2.12          Berbagai Meroplankton
Meroplankton adalah hewan yang hidup sebagai plankton untuk sementara saja yang merupakan fase awal dari daur (siklus) hidupnya.  Meroplankton umumnya berupa telur hingga larva yang hidup melayang atau mengambang di laut.  Memasuki tahap dewasa ia berubah secara bertahap menjadi nekton yang bisa berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menancap, nelekat atau menetap di dasar laut.  Sebagian besar hewan laut yang kita kenal seperti ikan, udang, kepiting, kerang, cumi – cumi, teripang, karang batu memulai daur hidupnya sebagai meroplankton.
Dalam kehidupan alami banyak dari meroplankton yang mati karena sebab – sebab alami misalnya karena pemangsaan atau karena sebab – sebab lain.  Hanya sebagian kecil saja yang dapat bertahan hidup (survive) sampai dewasa.  Oleh sebab itu, kehidupan selama menjadi meroplankton merupakan saat – saat yang sangat kritis.  Dalam upaya budidaya ikan, udang, atau kepiting, keberhasilannya sangat tergantung akan keberhasilan memelihara larva.  Pada tahap ini, tingkat kematian bisa cukup tinggi.  Banyak upaya yang dilakukan untuk pengembangan teknologi budidaya meroplankton ini misalnya dengan teknologi pembenihan.  Usaha pembenihan udang dan ikan kini merupakan kegiatan ekonomi sendiri yang sangat menjanjikan.


BAB IV
BENTHOS

1.                Defenisi Benthos
Benthos adalah semua biota laut yang hidup di dasar perairan pantai dan laut, di semua mintakat yang menjadi habitat mereka.  Mereka terdiri dari tumbuh – tumbuhan, baik yang berupa pohon seperti mangrove, lamun, maupun alga yang tumbuh menempel ataupun mengakar di dasar pantai dan laut, dan hewan melata, menetap, menempel, memendam dan meliang di dasar perairan tersebut.
2.                  Jenis – Jenis Benthos
Benthos mencakup biota menempel, merayap dan meliang di dasar laut.  Kelompok ini hidup di dasar perairan mulai dari garis pasut sampai dasar abysal.  Contoh biota menempel ialah sepon, teritip dan tiram; biota merayap ialah kepiting dan udang karang; dan biota meliang ialah jenis kerang tertentu dan cacing.
Selain pembagian seperti yang diterangkan sebelumnya, biota laut juga dapat dibagi menurut cara makannya.  Mereka yang dapat menghasilkan makanannya sendiri dinamakan biota autotrof (autotrophic).  Termasuk di dalam golongan ini adalah tumbuh – tumbuhan.  Mereka dapat menghasilkan makanannya sendiri tanpa tergantung pada biota lain dengan berfotosintesis.  Mereka yang tidak dapat menghasilkan makanan sendiri dinamakan biota heterotrof (heterotrophic).  Semua hewan adalah heterotrof.  Benthos memiliki keanekaragaman ukuran, bentuk, habitat, dan sifat hidup.
2.1              Alga Bentik
Alga bentik yaitu tumbuh – tumbuhan laut yang merupakan kelompok terendah tingkatnya di antara tiga kelompok tumbuh – tumbuhan laut, yakni alga, lamun dan mangrove.



           









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar